Indonesia ternyata menghadapi sebuah teka-teki yang cukup pelik di sektor energi. Di satu sisi, negeri ini dikaruniai kekayaan alam yang luar biasa, baik fosil maupun terbarukan. Tapi di sisi lain, kita masih saja bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Inilah yang oleh Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, disebut sebagai 'energi paradoks'.
"Kita mulainya dari rumah kita, dari home ground kita, yaitu Indonesia. Permasalahan terbesar di sektor energi kita hari ini adalah energi paradoks yang kita miliki,"
Ujarnya dalam sebuah keterangan tertulis yang diterbitkan pada Minggu (30/11/2025). Pernyataan itu disampaikan usai ia menjadi narasumber dalam Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025, yang digelar di Diplomacy Clinic Room, The Kasablanka, Jakarta, sehari sebelumnya.
Memang, kalau dilihat dari cadangannya, Indonesia sebenarnya sangat kaya. Bayangkan saja, produksi batu bara nasional disebut mampu bertahan hingga dua abad ke depan. Belum lagi minyak dan gas yang jumlahnya juga tak kalah besar.
Namun begitu, kekayaan itu seperti tak berarti. Faktanya, kita masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah setiap harinya. Dengan harga minyak dunia yang berkisar di angka 70 dolar AS per barel, anggaran yang keluar untuk impor BBM ini mencapai 70 juta dolar... per hari! Sungguh angka yang fantastis dan tentu saja membebani devisa negara.
Selain minyak mentah, masih ada lagi deretan impor energi lain seperti LPG, minyak tanah, hingga solar. Menurut Eddy, kondisi inilah yang menjadi salah satu masalah paling serius yang harus diatasi bangsa ini.
Lalu, apa solusinya?
Artikel Terkait
Sumatera Terbelah: Jalan Nasional Masih Lumpuh, Korban Jiwa Terus Berjatuhan
Akses Jantung Sumatera Terkoyak, Korban Tewas Tembus Ratusan Jiwa
Sultan Bachtiar: Film Maju, Ekonomi Daerah Ikut Bergerak
Prabowo Kerahkan Semua Lini, Fokus Utama Evakuasi Korban Banjir Sumatra