Di Desa Kadujajar, Kabupaten Lebak, air bersih masih jadi barang langka. Padahal, itu kebutuhan paling mendasar. Setiap hari, warga harus berjalan jauh hanya untuk sekadar mandi, mencuci, atau memasak. Rasanya seperti perjuangan tanpa ujung.
Ustaz Ade, pengelola Pondok Pesantren Nurul Hikmah, mengaku bulu kuduknya merinding tiap kali harus pergi ke sumber air yang mereka sebut 'rorah'.
"Jauh dan terpencil sekali lokasinya. Itu yang kami tempuh kalau butuh air bersih," ujarnya, menggambarkan betapa sulitnya situasi di sana.
Masalah ini makin menjadi-jadi saat kemarau tiba. Sumber air mengering, yang tersisa seringkali kotor. Pondok pesantren yang dipimpin Kyai Sanen ini pun hanya mengandalkan sumur dangkal sedalam 14 meter. Saat dikunjungi, air di dalamnya tampak keruh dan dipenuhi sampah. Tapi mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya yang mereka punya.
Air dari sumur itulah yang dipakai untuk segala keperluan. Disedot pakai mesin, atau diambil dengan ember dan tali. Hasilnya ditampung di dua penampungan, lalu dibagi-bagi sehemat mungkin ke seluruh santri. Saking hematnya, mandi pun jadi kegiatan yang kerap terlewat.
Dampaknya jelas. Banyak santri yang menderita gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya karena sanitasi yang buruk. Kondisi ini bukan rahasia lagi.
Suci Aulia dari Yayasan Desa Hijau, lembaga yang fokus pada penyediaan air bersih di daerah itu, membenarkan kesulitan yang dialami warga.
"Sumur yang ada cuma bertahan dua minggu. Habis itu, warga terpaksa jalan sampai 2 kilometer dan antri panjang," katanya.
Artikel Terkait
Menlu: Presiden Prabowo Telpon Pemimpin Teluk, Indonesia Tawarkan Mediasi
Program Makan Bergizi Polri Dongkrak Semangat dan Kehadiran Siswa di SDN 07 Palmerah
UIN Jakarta Buka Pendaftaran Jalur SPAN-PTKIN 2026 Tanpa Tes Tertulis
BNPP RI Gelar Dialog Langsung dengan Calon Birokrat Muda di Wilayah Perbatasan