Warga dan Santri di Lebak Bergantung pada Sumur Keruh di Tengah Kelangkaan Air Bersih

- Rabu, 04 Maret 2026 | 10:20 WIB
Warga dan Santri di Lebak Bergantung pada Sumur Keruh di Tengah Kelangkaan Air Bersih

Di Desa Kadujajar, Kabupaten Lebak, air bersih masih jadi barang langka. Padahal, itu kebutuhan paling mendasar. Setiap hari, warga harus berjalan jauh hanya untuk sekadar mandi, mencuci, atau memasak. Rasanya seperti perjuangan tanpa ujung.

Ustaz Ade, pengelola Pondok Pesantren Nurul Hikmah, mengaku bulu kuduknya merinding tiap kali harus pergi ke sumber air yang mereka sebut 'rorah'.

"Jauh dan terpencil sekali lokasinya. Itu yang kami tempuh kalau butuh air bersih," ujarnya, menggambarkan betapa sulitnya situasi di sana.

Masalah ini makin menjadi-jadi saat kemarau tiba. Sumber air mengering, yang tersisa seringkali kotor. Pondok pesantren yang dipimpin Kyai Sanen ini pun hanya mengandalkan sumur dangkal sedalam 14 meter. Saat dikunjungi, air di dalamnya tampak keruh dan dipenuhi sampah. Tapi mau bagaimana lagi? Itu satu-satunya yang mereka punya.

Air dari sumur itulah yang dipakai untuk segala keperluan. Disedot pakai mesin, atau diambil dengan ember dan tali. Hasilnya ditampung di dua penampungan, lalu dibagi-bagi sehemat mungkin ke seluruh santri. Saking hematnya, mandi pun jadi kegiatan yang kerap terlewat.

Dampaknya jelas. Banyak santri yang menderita gatal-gatal atau penyakit kulit lainnya karena sanitasi yang buruk. Kondisi ini bukan rahasia lagi.

Suci Aulia dari Yayasan Desa Hijau, lembaga yang fokus pada penyediaan air bersih di daerah itu, membenarkan kesulitan yang dialami warga.

"Sumur yang ada cuma bertahan dua minggu. Habis itu, warga terpaksa jalan sampai 2 kilometer dan antri panjang," katanya.

Menurut Suci, situasi ini menunjukkan bahwa bantuan yang nyata dan berkelanjutan sangat dibutuhkan. Air bersih bukan sekadar cairan, tapi penopang hidup yang membuat warga bisa hidup layak dan nyaman.

Solusi yang diharapkan adalah pembuatan sumur dalam. Sekitar 40-50 meter kedalamannya, yang bisa menyediakan air tak peduli musim hujan atau kemarau. Dengan sumur bor beserta mesinnya, kekhawatiran warga dan santri akan kelangkaan air mudah-mudahan bisa berkurang. Alhasil, mereka bisa lebih fokus beraktivitas untuk memperbaiki kehidupan.

Harapan dan Rencana Ke Depan

Ustaz Ade punya harapan besar. Ia ingin pesantren dan warga sekitar segera memiliki sumur yang dalam. Nantinya, sumur itu akan dikelola oleh pesantren dan bisa diakses warga kapan saja.

"Bayangkan, 24 jam. Tak perlu lagi ke rorah yang jauh itu. Saya sangat bersyukur jika rencana ini terwujud, karena sudah ditunggu-tunggu lama oleh masyarakat," tuturnya penuh harap.

Pendampingan menjadi kunci. Suci menegaskan, Yayasan Desa Hijau tak hanya membantu pembuatan, tapi juga akan mendampingi warga dalam mengelola sumur dan mesinnya. Tujuannya agar semuanya berfungsi optimal dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, semua berharap kondisi memprihatinkan ini cepat berubah. Warga dan santri di Kadujajar sudah terlalu lama hidup dalam kekurangan. Bantuan siapa pun sangat berarti untuk mengalirkan kesejukan air bersih, sekaligus harapan baru, ke desa mereka.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar