Eddy menegaskan bahwa jalan keluar dari paradoks ini adalah dengan mengoptimalkan sumber energi terbarukan. Langkah ini bukan cuma bisa mengurangi ketergantungan pada impor, tapi juga sekaligus menghasilkan energi yang lebih bersih.
"Dengan mengoptimalkan energi terbarukan, kita bisa mengurangi impor, menghemat devisa, dan menghasilkan energi yang bersih dan hijau,"
katanya.
Ia juga menyoroti komitmen Presiden Prabowo yang kerap menegaskan pentingnya akselerasi pengembangan energi terbarukan. Komitmen itu kemudian diwujudkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Meski demikian, transisi energi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangannya nyata. Misalnya, capacity factor pembangkit tenaga surya yang masih rendah, hanya sekitar 25-30 persen. Soalnya, PLTS tidak bisa beroperasi saat malam atau ketika matahari tertutup awan. Di sisi lain, penggunaan baterai skala besar untuk menyimpan energi surya juga masih terbilang mahal.
Terlepas dari semua tantangan itu, percepatan transisi energi tetaplah mendesak. Apalagi, emisi karbon dari pembangkit batu bara dan diesel masih menyumbang sekitar 60 persen dari kapasitas pembangkitan nasional. Ini jelas jadi pekerjaan rumah yang besar.
Acara CIFP 2025 itu sendiri juga dihadiri sejumlah tokoh lain. Tampak hadir antara lain Anindya Novyan Bakrie dari Kadin, Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia, serta sejumlah pakar lainnya seperti Yusra Khan, Adhityani Putri, dan Andhyta Firselly Utami.
Artikel Terkait
Sumatera Terbelah: Jalan Nasional Masih Lumpuh, Korban Jiwa Terus Berjatuhan
Akses Jantung Sumatera Terkoyak, Korban Tewas Tembus Ratusan Jiwa
Sultan Bachtiar: Film Maju, Ekonomi Daerah Ikut Bergerak
Prabowo Kerahkan Semua Lini, Fokus Utama Evakuasi Korban Banjir Sumatra