Di tengah ketegangan yang masih menyelimuti Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan klarifikasi soal pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Usai serangan AS dan Israel ke Iran, Prabowo disebut siap turun tangan sebagai penengah. Namun begitu, tawaran itu punya satu syarat utama.
Kedua belah pihak Amerika Serikat dan Iran harus sepakat dulu untuk duduk berunding. Tanpa itu, semuanya percuma.
"Ya, seperti yang disampaikan bahwa jika kedua belah pihak berkeinginan, ya kita, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator," ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa lalu.
Dia melanjutkan, "Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu (tak ingin ada negosiasi), ya kita kembalikan kepada mereka."
Intinya, Indonesia memang punya niat. Mereka menawarkan diri, menunjukkan kesiapan untuk jadi jembatan di tengah perbedaan yang tajam itu. Menurut Sugiono, posisi Indonesia jelas: ingin mendamaikan, ingin membantu menurunkan eskalasi. Tapi semua kembali pada kemauan politik dari Washington dan Tehran.
Sebelumnya, Sugiono mengaku sudah berbicara langsung dengan Menlu Iran. Percakapan itu terjadi via telepon beberapa hari yang lalu.
"Beliau menelepon saya, kemudian menjelaskan posisi Iran," katanya.
Dalam kesempatan itu, Sugiono tak ragu menyampaikan sikap Indonesia. Mereka menyesalkan betul gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang ujung-ujungnya malah memicu aksi militer dan situasi jadi makin panas. Rupanya, jalan dialog yang macet itu berimbas serius, memicu ketegangan yang kita saksikan sekarang.
Jadi, bola sebenarnya ada di lapangan AS dan Iran. Indonesia sudah mengacungkan tangan, siap membantu jika diminta. Tinggal menunggu respons.
Artikel Terkait
BNI Kembalikan Rp 28 Miliar Dana Jemaat Gereja yang Digelapkan Oknum
Universitas Tarakanita Gelar Wisuda Perdana, Tandai Transisi dari STARKI
Pemprov DKI Masih Cari Metode Efektif Tangani Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu
AS Cegat Kapal Kargo Iran di Teluk, Perundingan Terancam Batal