Hujan gerimis baru saja reda di kawasan Kota Bambu Utara, Palmerah, Kamis sore itu. Tiba-tiba, sebuah tembok pembatas yang memisahkan tiga sekolah SDN 01, SDN 02, dan SMPN 130 ambruk begitu saja. Suaranya menggemparkan warga. Reruntuhannya tak hanya berserakan di jalan, tapi juga menimpa beberapa sepeda motor dan merusak bagian depan rumah penduduk.
Menurut informasi yang beredar, kejadian ini berlangsung sekitar pukul 17.35 WIB. Seorang warga setempat, Heni (55), punya dugaan kuat soal penyebabnya. Menurutnya, tembok itu sudah lama menahan tekanan tanah galian dari proyek renovasi sekolah. Ditambah lagi, hujan deras selama dua hari sebelumnya membuat tanah semakin jenuh dan berat.
"Dua hari kemarin kan hujan deras, ditambah lagi ada pengeboran bikin fondasi sekolahan. Jadi, kan tambah padat (tanah galian proyek yang menumpuk di balik tembok), makanya roboh," ujar Heni.
Untungnya, meski kejadiannya cukup mencekam, tidak ada korban jiwa atau luka-luka. Saat tembok mulai runtuh, sejumlah anak justru sedang menuju tempat salat dan menghindar melalui sebuah gang kecil. Empat unit sepeda motor memang tertimbun, tapi nyawa selamat.
"Anak-anak pada mau salat. Untungnya kan ada gang kecil, pada masuk ke dalam. Alhamdulillah enggak ada korban. Tapi ada motor yang tertimpa, kalau korban jiwa Alhamdulillah enggak ada," tutur Heni lagi.
Detik-Detik Panik Sebelum Tembok Ambrol
Cici (51), salah seorang warga yang rumahnya terdampak, masih tampak syok saat menceritakan ulang peristiwa itu. Menurut pengakuannya, tembok setinggi tiga meter itu sudah terlihat tidak stabil sebelum akhirnya benar-benar rubuh.
"Waktu itu panik. Jadi sebelum roboh, emang udah tahu, kelihatan mau roboh. Udah goyah tuh temboknya. Saya lagi diam di depan warung kan, (lihat ke tembok) kayaknya mau roboh gitu," kata Cici.
Begitu tembok mulai miring, Cici spontan lari masuk ke dalam rumah. Dia bersyukur tidak ada seorang pun yang terluka. Tapi empat motor milik warga masih tertimbun reruntuhan hingga kini.
"Enggak ada korban, alhamdulillah. Tapi motor ada yang ketimpa, empat motor. Sampai sekarang kan belum dievakuasi itu (sepeda motor)," ucapnya.
Dampak Kerusakan dan Kerugian Warga
Selain motor yang tertimbun, dampaknya ternyata lebih luas. Tembok yang roboh itu menjatuhkan tiang listrik di dekat rumah Cici. Kabel-kabelnya tertarik dan sempat memercikkan api. Keluarganya sampai sekarang belum diizinkan masuk rumah karena alasan keamanan.
"Ada (percikan api), itu kabel di tiang yang tinggi. Makanya masih nggak boleh masuk (rumah)," imbuh Cici.
Kerugiannya pun berlapis. Selain kehilangan pendapatan karena tidak bisa berdagang, Cici juga mengeluh atap asbes rumahnya bocor akibat tertimpa tiang listrik. Padahal, atap itu baru saja diperbaiki.
"Motor (tertimpa tembok), terus jadinya enggak bisa dagang, enggak bisa istirahat juga kan. Terus kalau hujan, asbes bocor. Lihat aja tuh asbes atas, padahal baru dibenerin, jadi bocor kena tiang (listrik)," keluhnya.
Cici berharap pihak terkait khususnya pelaksana proyek renovasi segera menangani kerusakan dan mengganti kerugian. Dia juga mendesak agar lokasi kejadian cepat dibersihkan supaya aktivitas warga bisa kembali normal.
"Harapannya, bisa cepat dibersihin, motornya juga dievakuasi gitu. Ini kan kehalang jadinya. Ada garis polisi juga kan," tutup Cici.
Artikel Terkait
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Indonesia Berawan pada Rabu, 10 Juni 2026
Bocah 9 Tahun Tewas Diserang Anjing Pemburu di Bogor, Pemilik Anjing Jadi Tersangka
BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,50 Persen, Respons Tekanan Rupiah Akibat Ketidakpastian Global
Satpol PP Karawang Panggil Pengelola Tempat Hiburan Malam Terkait Video Viral Pesta Diduga Sesama Jenis