Perlahan tapi pasti, dia mulai bergerak. Dari rumah ke rumah, menyambangi sekolah-sekolah terdekat. Sosialisasi dia lakukan dengan sabar, menyampaikan bahwa sampah yang terpilih bukan lagi sekadar limbah, melainkan komoditas yang punya nilai jual.
"Yang saya tekankan, sampah itu masih punya nilai ekonomis. Kalau sudah dipilah, dia bukan sampah lagi tapi barang daur ulang," tegasnya.
Lewat program ini, Eko berharap warga Serang bisa "menabung" sampah anorganik yang sudah mereka pilah di rumah. Nantinya, tabungan itu bisa ditukar dengan rupiah di Bank Sampah Berkah Bhayangkara. "Dengan begitu, masyarakat dapat nilai ekonomis dari sampah yang mereka kumpulkan, sekaligus bisa menabung di bank sampah di wilayah masing-masing," jelasnya.
Kini, setelah berdiri sejak 2021, bank sampah itu sudah punya 50 titik unit. Tak hanya itu, Eko juga berhasil memberdayakan 15 orang kebanyakan ibu-ibu dan pemuda setempat yang kini bekerja di bank sampah tersebut. Langkah kecilnya ternyata mampu memberi dampak yang tak terduga.
Artikel Terkait
Invasi AS ke Venezuela 2026: Katalis Kekacauan Global yang Tak Terhindarkan
Eddy Soeparno Desak 2026 Jadi Tahun Mitigasi Krisis Iklim
Utang Rp 300 Ribu Berujung Maut, Pria di Depok Ditusuk Saat Tidur
Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB 2026, Tantangan Diplomasi Menanti