Konferensi Diplomasi Budaya 2025: Fadli Zon Buka IICCD di UI, Bahas Strategi Soft Power Indonesia

- Selasa, 18 November 2025 | 22:45 WIB
Konferensi Diplomasi Budaya 2025: Fadli Zon Buka IICCD di UI, Bahas Strategi Soft Power Indonesia

Konferensi Diplomasi Budaya Internasional Indonesia 2025 Resmi Dibuka di UI

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), secara resmi membuka Indonesia International Conference on Cultural Diplomacy (IICCD) 2025. Acara bertaraf internasional ini berlangsung selama dua hari di Kampus Universitas Indonesia, Depok.

Fadli Zon Tekankan Diplomasi Budaya sebagai Soft Power Indonesia

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam pidato pembukaannya menegaskan peran strategis diplomasi budaya dalam membina hubungan internasional dan memperkuat posisi Indonesia di kancah global. Konferensi yang mengusung tema "Defining Cultural Diplomacy: Crossing Cultures, Weaving Worlds" ini menjadi platform untuk merefleksikan dan memperkuat komitmen kolektif dalam memajukan budaya sebagai pilar peradaban global.

Fadli Zon menyoroti bahwa meskipun belum memiliki definisi tunggal, diplomasi budaya merupakan elemen kunci dari soft power suatu bangsa. Ia menjelaskan bahwa bidang ini beririsan dengan diplomasi publik, nation branding, promosi budaya, dan industri kreatif. Oleh karena itu, IICCD 2025 hadir sebagai ruang kritikal untuk mengkaji ulang konsep-konsep tersebut dan merumuskan fondasi diplomasi budaya yang relevan untuk abad ke-21.

Prioritas Kebijakan Kementerian Kebudayaan untuk Diplomasi Budaya

Lebih lanjut, Menbud Fadli Zon memaparkan tiga pilar kebijakan prioritas Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat diplomasi budaya:

  1. Pelindungan dan Revitalisasi Warisan Budaya: Mencakup konservasi situs dan museum, pelestarian warisan budaya takbenda, perlindungan kekayaan intelektual budaya, serta komunitas adat.
  2. Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pemberdayaan Budaya: Meliputi penguatan industri budaya digital, ekosistem film, musik, seni, dan sektor kreatif lainnya.
  3. Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Budaya: Diwujudkan melalui pertukaran budaya, program residensi, gastro-diplomasi, dan upaya repatriasi benda budaya.

Harapan untuk Pembahasan Strategis dan Kolaborasi Masa Depan

Fadli Zon menyampaikan harapannya agar forum IICCD 2025 dapat menghasilkan pembahasan mendalam mengenai isu-isu kunci seperti repatriasi, keberlanjutan, warisan budaya maritim, museum, musik, budaya populer, dan pertukaran kreatif. Ia menegaskan kesiapan Kementerian Kebudayaan untuk belajar dari hasil riset dan usulan para peserta guna memperkuat kebijakan diplomasi budaya Indonesia.

Konferensi ini juga diharapkan dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan teori dan praktik, sekaligus memperkuat ekosistem kerja sama budaya internasional.

Dukungan dari Dunia Akademik

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya, turut menyoroti peran vital dunia akademik dalam mendukung diplomasi budaya melalui riset, perspektif kritis, dan komitmen pada inklusivitas. Ia mengapresiasi penyelenggaraan IICCD yang mendorong semua pihak untuk melihat melampaui narasi konvensional dan mengeksplorasi kontribusi praktik budaya, baik tradisional maupun kontemporer, bagi perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.

Peserta dan Fokus Konferensi

Indonesia International Conference on Cultural Diplomacy (IICCD) 2025 dihadiri oleh sekitar dua ratus peserta yang terdiri dari akademisi, komunitas, dan pembuat kebijakan. Konferensi ini menampilkan pembicara ahli dari berbagai bidang seperti Arkeologi, Antropologi, Museum, dan Hubungan Internasional dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Singapura, Portugal, Australia, UEA, Jerman, Kenya, dan Ukraina.

Selama dua hari, IICCD akan menjadi forum strategis untuk merumuskan kembali diplomasi budaya dengan mempertimbangkan pengalaman lokal dan dinamika global, serta memperkuat kolaborasi antar institusi, akademisi, komunitas, dan pembuat kebijakan untuk menciptakan dampak dan jejaring yang berkelanjutan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar