Perubahan politik ini membuka jalan bagi normalisasi hubungan dengan Israel. Pada Oktober 2020, Sudan menyetujui normalisasi sebagai bagian dari Abraham Accords, yang diteken pada Januari 2021. Namun, keputusan ini ditolak keras oleh rakyat Sudan yang tetap setia pada perjuangan Palestina.
Kembali ke Poros Perlawanan dan Konflik Terkini
Jenderal Burhan sebagai Kepala Dewan Kedaulatan Sudan kemudian membatalkan normalisasi dengan Israel dan memulihkan hubungan diplomatik penuh dengan Iran setelah tujuh tahun terputus. Langkah ini memicu kemarahan AS dan Israel.
Pasukan Dukungan Cepat (RSF) pimpinan Mohammed Hamdan Dagalo (Hemedti) kemudian melancarkan pemberontakan. Berbagai laporan media internasional mengungkap bahwa UEA dan Israel diduga menjadi pendukung utama RSF dengan menyuplai senjata, pelatihan, dan logistik.
Alasan Israel Terlibat dalam Konflik Sudan
Campur tangan Israel di Sudan didorong kekhawatiran terhadap potensi aliansi Yaman-Sudan. Jika Sudan yang pro-perlawanan bersatu dengan Yaman yang dipimpin Ansarullah, kedua negara dapat menguasai jalur Laut Merah yang strategis. Ini akan menjadi ancaman langsung terhadap kapal-kapal AS, Inggris, dan Israel.
Kini, media Sudan menyebut Israel sebagai dalang perang, sementara rakyat menyebut RSF sebagai "tentara bayaran Zionis-Emirat." Meski hancur secara fisik, kesadaran politik rakyat Sudan justru bangkit. Dari reruntuhan Khartoum, tumbuh kembali semangat yang dulu membuat dunia menyebutnya "Iran-nya Afrika," dan mungkin kini Sudan layak disebut "Gaza di Afrika."
Artikel Terkait
Manchester City Kembali Juara EFL Cup Usai Taklukkan Arsenal 2-0 di Wembley
Desakan Kuat untuk Dewas KPK Periksa Pimpinan Soal Tahanan Rumah Gus Yaqut
Lonjakan 16% Penumpang Kereta di Jawa Tengah Saat Lebaran 2026
Nottingham Forest Hajar Tottenham Hotspur 3-0 di Kandang Sendiri