Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang serba digital, ada sebuah fenomena yang menarik diamati. Banyak pekerja sekarang ini, sepertinya, cuma "bekerja" saja. Datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Tidak ada lagi obsesi untuk merangkak naik, menjadi supervisor, manajer, atau menduduki posisi puncak. Mereka lebih sering ngobrol santai sambil ngopi dengan rekan, membicarakan rencana kerja besok, bukan tentang strategi meraih jabatan atau mengejar mimpi karir yang tinggi.
Di masa dimana lowongan kerja susah didapat dan beban pekerjaan menumpuk, impian menjadi bos seakan memudar. Yang dicari justru sederhana: gaji yang cukup, dan pekerjaan yang tidak menyita seluruh waktu hidup mereka. Di tengah krisis dan situasi yang kadang terasa absurd, momen-momen kecil di luar kantor justru terasa lebih berharga. Inikah yang belakangan disebut sebagai "bekerja tanpa karir"?
Bekerja Tanpa Karier: Bukan Sekadar Malas
Lantas, apa sih maksudnya? Intinya, ini adalah pilihan untuk bekerja demi stabilitas hidup, bukan untuk mengejar titel atau posisi. Pekerjaan tidak lagi dilihat sebagai identitas utama. Fokusnya lebih pada fleksibilitas waktu ketimbang peta promosi di perusahaan.
Namun begitu, jangan salah sangka dulu. Fenomena ini bukan cerminan kemalasan atau sikap setengah hati. Ini lebih merupakan respons terhadap realita: ketidakpastian ekonomi yang mencekam, pengalaman krisis yang berulang, dan tentu saja, cara memaknai hidup dan kerja yang ikut berubah.
Di Indonesia, tren ini kian menguat. Biaya hidup melambung tinggi, sementara gaji seolah jalan di tempat. Naik jabatan pun tak jaminan kesejahteraan otomatis meningkat. Belum lagi beban generasi sandwich, yang terjepit antara kebutuhan anak, orang tua, dan diri sendiri. Beban itu membuat banyak orang memilih untuk menyeimbangkan hidup, tidak mau menambah beban kerja yang sudah menumpuk.
Contohnya bisa kita lihat di sekitar. Ada ASN muda yang bilang, "Cukup sampai di sini saja karir saya." Ada karyawan swasta yang justru menolak ketika ditawari promosi. Atau para freelancer yang sengaja menghindari proyek berskala besar agar waktunya tetap fleksibel.
Di sekolah, tidak sedikit guru yang hanya ingin fokus mengajar, enggan jadi wali kelas atau menduduki posisi struktural. Di rumah sakit, ada tenaga kesehatan yang merasa cukup merawat pasien, tanpa ambisi menjadi kepala bagian. Bagi mereka, yang penting bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dengan tenang. Titik.
Antara Pilihan dan Keterpaksaan
Motif di balik pilihan ini ternyata beragam. Ada yang memutuskan secara sadar, ada pula yang melakukannya karena terpaksa sebuah "keterpaksaan" yang dibungkus dengan sikap legawa.
Artikel Terkait
Tiga Ribu Personel Dikerahkan untuk Berantas Pelanggaran Nekat di Jalanan Jakarta
Serangan Terhadap Keturunan Hadrami: Pola Lama dalam Kemasan Baru
Sarkasme Kapolri di DPR dan Drama Loyalis yang Memantik Kemarahan Publik
Prabowo Buka Rakornas 2026, Soroti Evaluasi Kinerja dan Sinergi Menuju Indonesia Emas