Bagi kelompok pertama, ini adalah hasil evaluasi. Setelah bertahun-tahun kelelahan, dikejar target yang tak realistis, dan digantungi janji promosi kosong, mereka memilih untuk menurunkan ekspektasi. Dibandingkan gelar mentereng di kartu nama, stabilitas waktu untuk keluarga dan kesehatan mental dirasa jauh lebih esensial. Bisa memenuhi kebutuhan jangka panjang tanpa pusing tujuh keliling, itu sudah merupakan pencapaian sendiri.
Di sisi lain, bagi banyak orang, pilihan ini lahir dari situasi yang sempit. Sistem kerja yang tidak transparan, jalur promosi yang gelap, kontrak kerja jangka pendek, dan ketimpangan kesempatan membuat karir terasa seperti ilusi. Bermimpi naik jabatan jadi kemewahan yang mahal, sementara sekadar bertahan saja sudah menghabiskan tenaga.
Dalam kondisi seperti ini, bekerja tanpa karir adalah bentuk adaptasi. Bukan karena ingin, tapi karena tidak ada pilihan lain yang lebih aman. Daripada menganggur, bertahan dan mencoba menikmati pekerjaan yang ada adalah jalan yang paling masuk akal. Nyatanya, masih banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung mereka yang punya pekerjaan tetap.
Bertumbuh Itu Bukan Hanya Soal Jabatan
Memang, jalan ini tidak selalu mulus. Tantangannya nyata: pendapatan yang bisa tidak stabil, terutama bagi pekerja lepas, dan tidak adanya jenjang karir yang jelas untuk diandalkan.
Tapi di balik itu, ada keuntungan yang mungkin tak terukur. Fleksibilitas mengatur waktu dan pekerjaan, kesempatan memperluas pengalaman di berbagai bidang, dan ruang untuk fokus mengasah potensi diri. Pada akhirnya, promosi jabatan bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan. Kualitas portofolio dan keahlian yang terus terasah justru seringkali lebih menentukan.
Sayangnya, perspektif masyarakat kita kerap belum berubah. Naik jabatan masih diagung-agungkan, dielu-elukan sebagai bukti kesuksesan tunggal. Narasi sempit ini, terutama di komunitas pedesaan, menimbulkan stigma bagi mereka yang memilih jalan berbeda. Mereka mudah dicap tidak ambisius, atau dianggap hanya jadi "karyawan biasa" seumur hidup.
Padahal, karir hanyalah satu dari banyak jalan untuk bertumbuh. Banyak hal lain yang bisa dilakukan di luar struktur perusahaan: membuka usaha, mengajar kursus, atau mengelola bisnis rumahan. Barangkali akar masalahnya bukan pada orang-orang yang berhenti mengejar karir, tapi pada sistem kerja yang sudah tidak lagi memberi harapan.
Pada akhirnya, bekerja tanpa karir berada di wilayah abu-abu. Ia bisa menjadi bentuk kebebasan yang disadari dan dipilih, sekaligus menjadi tanda keterbatasan yang harus diterima. Sebuah pilihan yang kompleks, yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh mereka yang menjalaninya.
Artikel Terkait
Prabowo Peringatkan Dampak Mengerikan Perang Nuklir: Ikan Kita Bisa Terkontaminasi
Petugas Haji Dilarang Berhaji, Apa Logikanya?
BNPB Pacu Pembangunan 133 Huntara di Gayo Lues, Target Siap Huni Jelang Ramadhan
Saksi Tolak Tanda Tangan BAP, Lampiran Timbangan Narkoba Jadi Sorotan