Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas, Gaza Kembali Dibombardir

- Senin, 02 Februari 2026 | 09:25 WIB
Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas, Gaza Kembali Dibombardir

Gaza Sabtu (31/1) pagi dimulai dengan dentuman. Lagi-lagi. Serangkaian serangan udara Israel menghantam Jalur Gaza, menambah daftar korban di tengah gencatan senjata yang seharusnya berlaku. Padahal, ini sudah hari ke-112 pelanggaran berturut-turut. Menurut konfirmasi sejumlah sumber medis di lapangan, sedikitnya 31 warga Palestina tewas dalam serangan itu. Puluhan lainnya terluka, berjuang antara hidup dan mati.

Korban terus berjatuhan sepanjang hari. Bom-bom itu menyasar hampir segala tempat: permukiman padat, kamp pengungsi yang sesak, bahkan tenda-tenda darurat dan fasilitas sipil. Di Jalan Gaza Lama, wilayah Jabalia di utara Gaza, sebuah insiden terjadi siang hari. Kamal Khader dilaporkan gugur. Beberapa warga di sekitarnya terluka setelah pasukan Israel menargetkan sekelompok orang di sana.

Yang memilukan, serangan-serangan ini berlanjut meski ada upaya diplomatik. Sebuah Board of Peace atau Dewan Perdamaian bahkan telah dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump pada pertengahan Januari 2026 lalu. Tapi di tanah Gaza, perdamaian itu terasa sangat jauh dari kenyataan.

Menurut laporan Pusat Informasi Palestina pada Ahad (1/2), pasukan pendudukan melakukan pembantaian baru lewat serangan udara sejak Sabtu pagi. Salah satu yang paling parah terjadi di barat laut Kota Gaza. Sebuah kantor polisi Sheikh Radwan dibombardir pesawat tempur Israel. Setidaknya 15 orang tewas seketika. Di antara mereka, empat adalah petugas polisi perempuan. Ratusan lainnya terluka, dan tiga orang masih hilang tertimbun.

Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Palestina mengonfirmasi serangan langsung itu. Dalam pernyataannya, mereka menyebut sejumlah petugas gugur dan terluka. Begitu pula warga sipil yang kebetulan berada di lokasi saat bom jatuh.

"Tim penyelamat dan ambulans masih berupaya mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan," begitu pernyataan resmi kepolisian Palestina. Mereka juga menegaskan bahwa sejumlah orang diduga masih terperangkap di bawah puing-puing bangunan yang hancur lebur.

Di tempat lain, kekerasan terus merajalela. Sebuah rumah milik keluarga Rizq di lingkungan Nasr, barat Kota Gaza, hancur dibombardir siang itu. Tak jauh dari sana, di kawasan Suwaidi, serangan udara lain merenggut tiga nyawa dan melukai beberapa warga.

Nasib tragis juga menimpa pengungsi di selatan. Tujuh warga Palestina dari satu keluarga tewas setelah pesawat Israel menargetkan tenda mereka di kawasan Asdaa, barat laut Khan Younis. Mereka adalah sang kakek, Rabhi Hammad Muhammad Abu Hudaid, beserta tiga putra dan tiga cucunya. Nama-nama mereka: Muhammad, Hazem, Hajar, Lia, Sham, dan Jibril. Seluruhnya dari satu keluarga yang mencoba bertahan di tenda pengungsian.

Masih dari sumber medis yang sama, lima warga lagi tewas di dekat Persimpangan Abbas, barat Kota Gaza. Dua di antaranya anak-anak, disertai seorang perempuan. Mereka menjadi korban serangan udara ke sebuah gedung apartemen.

Sejak pagi, situasi di Khan Younis sudah mencekam. Pesawat tempur Israel membombardir kamp pengungsi Ghaith di kawasan Mawasi, padahal perintah evakuasi sudah dikeluarkan lebih dulu. Serangan ini memperparah penderitaan ribuan pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat tinggal mereka.

Di lokasi terpisah, lima orang terluka akibat bombardemen apartemen dekat terminal bus Jabalia. Lalu, ada lagi warga yang cedera saat sebuah gedung di pinggiran Jalan Al-Jalaa, pusat kota, dihujani bom.

Wilayah timur Gaza bagian tengah pun tak luput. Puluhan tenda pengungsi di kamp Asdaa rusak parah akibat penembakan dan pengeboman. Serangan subuh tadi, selain merenggut nyawa keluarga Abu Hudaid, juga menghancurkan dapur umum di kamp Ghaith. Fasilitas vital bagi warga yang kelaparan itu kini tinggal puing.

Hudhaifa Lafi, seorang petugas media di Asdaa, menggambarkan kerusakan yang sangat luas.

"Perkiraan awal kami, sekitar 130 tenda rusak. Ada yang hancur total, ada yang parah. Selimut, pakaian, barang-barang kebutuhan dasar hilang semua," ujarnya.

Ia menambahkan, kamp Ghaith juga mengalami kehancuran besar. Dapur umum hancur. Sekolah dan klinik medis rusak berat. Tenda-tenda pengungsi berantakan tak berbentuk.

Angka-angka yang terkumpul sejak gencatan senjata diberlakukan sungguh suram: sedikitnya 524 warga Palestina tewas, 1.360 lainnya luka-luka akibat pelanggaran berulang. Sementara, jika ditarik mundur ke awal perang pada Oktober 2023, korban jiwa telah melampaui 71.769 orang. Yang terluka lebih dari 171.483.

PBB mencatat sekitar 90% infrastruktur sipil Gaza rusak atau hancur total. Biaya rekonstruksinya? Sekitar 70 miliar dolar AS. Organisasi hak asasi manusia internasional pun terus bersuara, mengecam serangan terhadap warga sipil dan fasilitasnya sebagai pelanggaran berat hukum humaniter. Mereka menyebutnya kejahatan perang.

Namun begitu, di tengah kecaman dunia yang kian keras, serangan udara Israel tetap berlanjut. Bagi keluarga-keluarga di Gaza yang kehilangan anak, orang tua, dan atap rumah, angka-angka statistik itu hanyalah deretan data dingin. Di baliknya, ada tragedi kemanusiaan yang mereka rasakan setiap hari sebuah penderitaan kolektif yang tak berkesudahan, bahkan di masa gencatan senjata yang seharusnya menjadi masa tenang.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler