Gaza Sabtu (31/1) pagi dimulai dengan dentuman. Lagi-lagi. Serangkaian serangan udara Israel menghantam Jalur Gaza, menambah daftar korban di tengah gencatan senjata yang seharusnya berlaku. Padahal, ini sudah hari ke-112 pelanggaran berturut-turut. Menurut konfirmasi sejumlah sumber medis di lapangan, sedikitnya 31 warga Palestina tewas dalam serangan itu. Puluhan lainnya terluka, berjuang antara hidup dan mati.
Korban terus berjatuhan sepanjang hari. Bom-bom itu menyasar hampir segala tempat: permukiman padat, kamp pengungsi yang sesak, bahkan tenda-tenda darurat dan fasilitas sipil. Di Jalan Gaza Lama, wilayah Jabalia di utara Gaza, sebuah insiden terjadi siang hari. Kamal Khader dilaporkan gugur. Beberapa warga di sekitarnya terluka setelah pasukan Israel menargetkan sekelompok orang di sana.
Yang memilukan, serangan-serangan ini berlanjut meski ada upaya diplomatik. Sebuah Board of Peace atau Dewan Perdamaian bahkan telah dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump pada pertengahan Januari 2026 lalu. Tapi di tanah Gaza, perdamaian itu terasa sangat jauh dari kenyataan.
Menurut laporan Pusat Informasi Palestina pada Ahad (1/2), pasukan pendudukan melakukan pembantaian baru lewat serangan udara sejak Sabtu pagi. Salah satu yang paling parah terjadi di barat laut Kota Gaza. Sebuah kantor polisi Sheikh Radwan dibombardir pesawat tempur Israel. Setidaknya 15 orang tewas seketika. Di antara mereka, empat adalah petugas polisi perempuan. Ratusan lainnya terluka, dan tiga orang masih hilang tertimbun.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Palestina mengonfirmasi serangan langsung itu. Dalam pernyataannya, mereka menyebut sejumlah petugas gugur dan terluka. Begitu pula warga sipil yang kebetulan berada di lokasi saat bom jatuh.
"Tim penyelamat dan ambulans masih berupaya mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan," begitu pernyataan resmi kepolisian Palestina. Mereka juga menegaskan bahwa sejumlah orang diduga masih terperangkap di bawah puing-puing bangunan yang hancur lebur.
Di tempat lain, kekerasan terus merajalela. Sebuah rumah milik keluarga Rizq di lingkungan Nasr, barat Kota Gaza, hancur dibombardir siang itu. Tak jauh dari sana, di kawasan Suwaidi, serangan udara lain merenggut tiga nyawa dan melukai beberapa warga.
Nasib tragis juga menimpa pengungsi di selatan. Tujuh warga Palestina dari satu keluarga tewas setelah pesawat Israel menargetkan tenda mereka di kawasan Asdaa, barat laut Khan Younis. Mereka adalah sang kakek, Rabhi Hammad Muhammad Abu Hudaid, beserta tiga putra dan tiga cucunya. Nama-nama mereka: Muhammad, Hazem, Hajar, Lia, Sham, dan Jibril. Seluruhnya dari satu keluarga yang mencoba bertahan di tenda pengungsian.
Masih dari sumber medis yang sama, lima warga lagi tewas di dekat Persimpangan Abbas, barat Kota Gaza. Dua di antaranya anak-anak, disertai seorang perempuan. Mereka menjadi korban serangan udara ke sebuah gedung apartemen.
Artikel Terkait
Indonesia di BOP Trump: Diplomasi Berani atau Langkah Terburu-buru?
Ironi Dewan Perdamaian: Serangan Gaza Malah Meningkat, Indonesia Tegaskan Komitmen
Prabowo Buka Pintu Istana untuk Wajah-Wajah Kritis
Tiga Ribu Personel Dikerahkan untuk Berantas Pelanggaran Nekat di Jalanan Jakarta