Di tengah ramainya pembahasan rencana demutualisasi BEI, Pandu Patria Sjahrir dari Danantara mencoba menepis kekhawatiran. Intinya, menurutnya, independensi regulator takkan terganggu. Poin ini dia tekankan saat ditemui di kantor Bursa Efek Indonesia, Minggu lalu.
“Pemegang saham hanya sebagai shareholder. Yang membuat aturan adalah regulator,” ucap Pandu dengan lugas.
Dia lalu memberi contoh. Di Singapura, otoritas jasa keuangannya yang berwenang. Sementara di Indonesia, tugas itu ada di pundak OJK. “OJK lah yang melakukan peraturan. Pemegang saham ya fokus kepada for profit untuk institusi itu,” tambahnya. Jadi, garis pemisahnya jelas: satu urusan bisnis, satunya lagi urusan aturan dan pengawasan.
Sebenarnya, demutualisasi ini bukan hal baru. Praktik serupa sudah berjalan di sejumlah bursa dunia. Pandu menyebut beberapa contoh, seperti Hong Kong, India, dan Malaysia. Singapura juga tentu saja. Artinya, konsep ini punya preseden dan dianggap lumrah dalam tata kelola pasar modal global.
Lalu, bagaimana dengan isu sovereign wealth fund atau SWF yang masuk jadi pemegang saham? Menurut Pandu, ini juga biasa terjadi. Dia merujuk pada struktur kepemilikan bursa Singapura.
“Bisa cek semua, sebagian besar memang sovereign wealth fund-nya masuk di situ. Dan ini nggak unik,” katanya.
“Jadi di Singapura ada contoh seperti Temasek masuk, ada juga Temasek Link Companies yang ada juga perusahaan-perusahaan yang ada di situ.”
Namun begitu, konsep saja tidak cukup. Kunci suksesnya, tegas Pandu, terletak pada eksekusi dan konsistensi aturan. Peraturan Pemerintah (PP) dan bagaimana kebijakan itu dijalankan memegang peran sangat krusial. Tanpa itu, semua bisa jadi wacana belaka.
Lantas, apakah independensi bursa bakal tetap terjaga? Pandu yakin iya. Selama regulator berfungsi optimal dan menjalankan tugasnya dengan baik, maka tak ada masalah. Logikanya sederhana.
“Tentu independensinya akan tetap, karena regulator yang melakukan pengaturan,” tegasnya.
“Pemegang saham fokus mengembangkan perusahaan, memastikan profitabilitas untuk semua shareholder, dan membangun organisasi yang lebih baik. Itu simpel.”
Pandangan CIO Danantara ini seperti ingin memberi pencerahan sekaligus menenangkan pasar. Baginya, demutualisasi adalah langkah evolusi, bukan sesuatu yang perlu ditakuti asal rambu-rambunya ditegakkan dengan benar.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020