Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas, Gaza Kembali Dibombardir

- Senin, 02 Februari 2026 | 09:25 WIB
Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas, Gaza Kembali Dibombardir

Sejak pagi, situasi di Khan Younis sudah mencekam. Pesawat tempur Israel membombardir kamp pengungsi Ghaith di kawasan Mawasi, padahal perintah evakuasi sudah dikeluarkan lebih dulu. Serangan ini memperparah penderitaan ribuan pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat tinggal mereka.

Di lokasi terpisah, lima orang terluka akibat bombardemen apartemen dekat terminal bus Jabalia. Lalu, ada lagi warga yang cedera saat sebuah gedung di pinggiran Jalan Al-Jalaa, pusat kota, dihujani bom.

Wilayah timur Gaza bagian tengah pun tak luput. Puluhan tenda pengungsi di kamp Asdaa rusak parah akibat penembakan dan pengeboman. Serangan subuh tadi, selain merenggut nyawa keluarga Abu Hudaid, juga menghancurkan dapur umum di kamp Ghaith. Fasilitas vital bagi warga yang kelaparan itu kini tinggal puing.

Hudhaifa Lafi, seorang petugas media di Asdaa, menggambarkan kerusakan yang sangat luas.

"Perkiraan awal kami, sekitar 130 tenda rusak. Ada yang hancur total, ada yang parah. Selimut, pakaian, barang-barang kebutuhan dasar hilang semua," ujarnya.

Ia menambahkan, kamp Ghaith juga mengalami kehancuran besar. Dapur umum hancur. Sekolah dan klinik medis rusak berat. Tenda-tenda pengungsi berantakan tak berbentuk.

Angka-angka yang terkumpul sejak gencatan senjata diberlakukan sungguh suram: sedikitnya 524 warga Palestina tewas, 1.360 lainnya luka-luka akibat pelanggaran berulang. Sementara, jika ditarik mundur ke awal perang pada Oktober 2023, korban jiwa telah melampaui 71.769 orang. Yang terluka lebih dari 171.483.

PBB mencatat sekitar 90% infrastruktur sipil Gaza rusak atau hancur total. Biaya rekonstruksinya? Sekitar 70 miliar dolar AS. Organisasi hak asasi manusia internasional pun terus bersuara, mengecam serangan terhadap warga sipil dan fasilitasnya sebagai pelanggaran berat hukum humaniter. Mereka menyebutnya kejahatan perang.

Namun begitu, di tengah kecaman dunia yang kian keras, serangan udara Israel tetap berlanjut. Bagi keluarga-keluarga di Gaza yang kehilangan anak, orang tua, dan atap rumah, angka-angka statistik itu hanyalah deretan data dingin. Di baliknya, ada tragedi kemanusiaan yang mereka rasakan setiap hari sebuah penderitaan kolektif yang tak berkesudahan, bahkan di masa gencatan senjata yang seharusnya menjadi masa tenang.


Halaman:

Komentar