Khamenei Ancam Perang Regional, Trump Cuma Anggap Biasa

- Senin, 02 Februari 2026 | 09:35 WIB
Khamenei Ancam Perang Regional, Trump Cuma Anggap Biasa

Ayatollah Ali Khamenei punya peringatan keras untuk Amerika Serikat. Pemimpin tertinggi Iran itu menyatakan, serangan apa pun dari AS bakal memicu perang yang meluas di kawasan. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus memanas antara kedua negara.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tampaknya tak terlalu terpengaruh. Saat ditanya wartawan soal peringatan Khamenei, responsnya singkat dan khas.

"Tentu saja dia akan mengatakan itu," ujar Trump, seperti dilansir AFP, Senin (2/2/2026).

Meski begitu, Trump masih menyisipkan harapan. Ia bilang masih berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Iran. "Semoga kita bisa mencapai kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, maka kita akan mengetahui apakah dia benar atau tidak," tambahnya.

Sebelumnya, Khamenei telah mewanti-wanti AS dengan bahasa yang lebih gamblang. Ia menyamakan gelombang protes yang mengguncang Iran baru-baru ini dengan sebuah "kudeta". Menurutnya, aksi para perusuh yang menyerang kantor polisi, pusat pemerintahan, bahkan membakar Al-Quran, adalah bentuk makar.

"Kudeta itu telah ditumpas," tegasnya.

Namun, ancaman dari luar justru dianggapnya lebih serius. Khamenei secara khusus menyinggung retorika dan ancaman militer Trump, termasuk pengiriman kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah.

"Amerika harus tahu bahwa jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional," kata Khamenei dengan nada tegas. Ia berusaha menenangkan warga Iran, "Mereka tidak perlu takut."

Soal kapal induk yang dikerahkan AS itu, Khamenei menyindir, "(Trump) sering mengatakan bahwa dia mengirim kapal... Bangsa Iran tidak akan takut dengan hal-hal ini."

Menurut sejumlah laporan, demonstrasi besar di Iran awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi biaya hidup yang mencekik. Tapi gelombang kemarahan itu kemudian berubah jadi gerakan anti-pemerintah yang massif. Pihak berwenang Iran dengan cepat menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik "kerusuhan" ini.

Di tengah situasi mencekam ini, kabar soal latihan militer Iran di Selat Hormuz sempat beredar. Jalur pelayaran vital untuk pasokan energi global itu dikabarkan akan jadi lokasi latihan tembak langsung selama dua hari. Tapi kemudian, seorang pejabat Iran membantahnya pada hari Minggu, mengatakan Angkatan Laut IRGC tidak punya rencana latihan semacam itu.

Ali Larijani, pejabat keamanan teratas Iran, sebelumnya sempat menyebut bahwa negosiasi sedang berjalan. Tapi dengan peringatan perang dari pemimpin tertinggi dan sikap santai dari Gedung Putih, jalan menuju kesepakatan tampaknya masih panjang dan berliku.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar