Menurut pengakuan ibu, sikap Arif mulai berubah sejak duduk di kelas VIII, terutama setelah mengenal seorang perempuan. Namun Monalisa menegaskan tidak pernah melakukan kekerasan terhadap anaknya. "Banyak orang bilang anak sering dipukul, itu tidak benar," tegasnya.
Sikap Sekolah dan Langkah Pencegahan
SMPN 2 Kota Sawahlunto memilih bersikap tertutup mengenai insiden ini. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Diana Rosa, enggan menunjukkan lokasi kejadian dengan alasan pemulihan trauma siswa. Ia menegaskan tidak ada tindakan bullying di sekolah.
Menanggapi tragedi ini, Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto mengambil langkah preventif. Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar, Sudirman, menginstruksikan peningkatan pendampingan siswa melalui peran aktif guru wali kelas.
"Kami akan rapat koordinasi mulai pemerintah atas hingga ke bawah. Camat semua akan kita undang, termasuk kepala sekolah SMP dan MTs," jelas Sudirman mengenai upaya membentengi mental peserta didik.
Hasil Penyidikan Polisi
Kapolsek Barangin, Ipda Gorrahman, memastikan tidak ada unsur perundungan dalam kasus ini. "Kami sedang buat laporan penyelidikan, hasilnya segera kami sampaikan ke keluarga. Ini dugaan arahnya ke tekanan pribadi," ungkapnya.
Polisi akan segera menyampaikan laporan lengkap penyelidikan kepada keluarga Arif untuk memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian siswa SMPN 2 Kota Sawahlunto ini.
Artikel Terkait
Di Balik Angpao dan Kembang Api: Filosofi Tersembunyi yang Menghidupkan Imlek
Sarmuji Soroti Kebutuhan Sistem Multipartai Sederhana untuk Presidensialisme
Indonesia Kecam Serangan Israel di Gaza, Sebut Langgar Gencatan Senjata
Trump Luncurkan Dewan Perdamaian untuk Gaza, Dunia Terbelah Antara Harapan dan Kecurigaan