Dokumen Epstein Bongkar Klaim Liar Soal Bill Gates dan Tawaran Makan Malam untuk Sang Duke

- Minggu, 01 Februari 2026 | 19:50 WIB
Dokumen Epstein Bongkar Klaim Liar Soal Bill Gates dan Tawaran Makan Malam untuk Sang Duke

Gelombang dokumen baru dari kasus Jeffrey Epstein kembali memicu kontroversi. Kali ini, nama Bill Gates terseret ke dalam pusaran klaim yang cukup liar dari mendiang terpidana itu. Menurut memo internal yang baru dirilis Departemen Kehakiman AS, Epstein menuduh miliarder pendiri Microsoft itu tertular penyakit menular seksual usai berhubungan dengan beberapa gadis Rusia.

Tak cuma itu, Epstein juga mengklaim Gates meminta antibiotik yang bisa diberikan secara diam-diam kepada istrinya di masa itu, Melinda French Gates. Keduanya kini telah resmi bercerai.

Klaim-klaim ini muncul dalam sekitar 3 juta halaman dokumen yang dirilis pemerintahan Trump. Di dalamnya juga terdapat foto-foto baru Epstein bersama Gates, yang hingga kini belum memberikan tanggapan langsung.

Seorang juru bicara Gates membantah keras semua tuduhan itu.

“Klaim ini benar-benar tidak masuk akal dan sepenuhnya salah,” tegasnya.

“Satu-satunya hal yang ditunjukkan dokumen-dokumen ini adalah frustrasi Epstein karena tidak memiliki hubungan berkelanjutan dengan Gates, dan sejauh mana dia akan berusaha menjebak serta mencemarkan nama baiknya,” imbuh sang juru bicara.

Di sisi lain, dokumen tersebut juga menguak interaksi Epstein dengan sejumlah tokoh terkemuka lainnya. Sosok seperti Andrew Mountbatten-Windsor, adik Raja Charles III yang gelarnya telah dicabut, juga disebut-sebut. Epstein disebut menawarkannya makan malam dengan seorang wanita Rusia berusia 26 tahun pada 2010.

Dalam sebuah email yang ditujukan ke kontak bernama “Sang Duke”, Epstein menulis, “Saya punya teman yang menurut saya Anda mungkin akan senang makan malam dengannya, namanya Irina.”

Balasan yang tampak dari mantan Duke of York itu singkat, “Tentu saja… akan senang bertemu dengannya.” Surat itu ditandatangani “HRH Duke of York KG”.

Epstein lalu memberi klarifikasi: wanita itu “berusia 26 tahun, berkebangsaan Rusia, cantik, dapat dipercaya.”

Sementara itu, hubungan Epstein dengan mantan diplomat Inggris Peter Mandelson juga kembali disorot. Dalam sebuah email terpisah pada Juli 2011, Epstein memberi tahu Mandelson bahwa dia sedang “menghabiskan hari bersama Gates, di Seattle.” Katanya, “Sangat menyenangkan.”

Mandelson sendiri, dalam pesan lain, pernah menyebut Epstein sebagai “teman baik dan benar-benar dapat dipercaya.”

Semua pengungkapan ini terjadi tujuh tahun setelah Epstein ditemukan meninggal di sel penjaranya. Tapi bayang-bayangnya ternyata masih panjang, terus membayangi orang-orang yang pernah berhubungan dengannya termasuk Gates yang pernah menjadi orang terkaya di dunia.

Gates sendiri sebenarnya punya jejak filantropi yang kuat di Inggris. Yayasannya, Bill & Melinda Gates Foundation, diketahui mendanai berbagai proyek penelitian kesehatan dan vaksin di negara itu. Bulan lalu terungkap yayasan itu membiayai biaya penerjemahan untuk Direktorat Obat Hewan senilai £21.500.

Di tengah guncangan ini, muncul pertanyaan tentang gelar kehormatan Gates. Dia dianugerahi gelar Knight Commander of the Order of the British Empire oleh Ratu Elizabeth II pada 2005. Meski begitu, gelar ‘Sir’ tidak disandangnya karena bukan warga negara Inggris. Kemungkinan akan ada seruan untuk mencabut gelar kehormatan itu, meski sumber di Whitehall enggan berkomentar.

Berkas-berkas yang dirilis juga memuat ribuan video dan gambar, meski tidak semuanya berkaitan langsung dengan Epstein. Todd Blanche, Wakil Jaksa Agung AS, menyebut ada “sejumlah besar pornografi komersial” di dalamnya.

Jaringan Epstein memang luas, mencakup banyak nama besar. Termasuk Donald Trump. Epstein pernah mengatakan Trump “mengetahui tentang para gadis itu”. Namun, Blanche bersikeras bahwa Trump telah dibebaskan dari segala tuduhan setelah dokumen dirilis sepenuhnya.

“Dalam semua komunikasi ini,” kata Blanche, “bahkan ketika berusaha sebaik mungkin untuk mencela Presiden Trump, Epstein tidak pernah menyarankan bahwa Presiden Trump telah melakukan sesuatu yang kriminal.”

Rilis dokumen ini seharusnya sudah dilakukan paling lambat Desember tahun lalu, sesuai kewajiban hukum. Pemerintahan Trump baru merilis sebagian kecil sebelum batas waktu. Kini, sisa materinya diyakini telah dipublikasikan semua, membuka lagi luka lama yang tak kunjung sembuh.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler