Sabtu lalu, peringatan keras dilayangkan oleh Khalil al-Hayya. Sebagai anggota penting Biro Politik Hamas dan pemimpinnya di Gaza, ia menyatakan pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata bakal berakibat serius. Peringatan itu disampaikan lewat telepon kepada sejumlah mediator internasional, seperti dilaporkan Anadolu.
Panggilan itu dilakukan bukan tanpa sebab. Menurut Hamas, aksi itu adalah respons atas tewasnya 37 warga Palestina dalam sehari, akibat serangan tentara Israel. Situasinya memang makin memanas.
"Ini kejahatan, pembantaian," ujar al-Hayya, suaranya tegas mengutuk aksi Israel yang hampir tiap hari terjadi. Menurutnya, semua serangan itu cuma berdasar dalih palsu dan kebohongan belaka.
Ia lalu menekankan soal dampak dari apa yang disebutnya "pelanggaran nyata" Israel. Komitmen perlawanan Palestina untuk menjaga gencatan senjata, katanya, harus dibarengi dengan paksaan agar pihak pendudukan memenuhi kewajibannya. Intinya, pelanggaran tak boleh dibiarkan berlanjut.
Di sisi lain, Hamas juga menyoroti persoalan lain yang masih menggantung: nasib warga Palestina yang terperangkap di terowongan wilayah Rafah, Gaza selatan. Mereka menyalahkan Israel karena dianggap gagal menyelesaikan masalah ini.
Padahal, gencatan senjata sudah diberlakukan sejak 10 Oktober. Tapi banyak warga masih terjebak. Israel menolak mengizinkan mereka keluar, dengan alasan sebagian mungkin adalah anggota Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas. Berbagai upaya mediasi sejauh ini seperti mentok.
Artikel Terkait
Unit Pencegahan Gaza Gempur Geng Kolaborator, Sita Senjata Zionis
Said Didu Ungkap Isi 4 Jam Dialog Rahasia dengan Prabowo
Kuasa Hukum Beberkan Alasan Kliennya Ditahan dalam Kasus Penganiayaan di Acara Maulid Tangerang
MK Tegaskan Independensi BPKN dalam Putusan Terbaru