Gibran menegaskan pentingnya persiapan teknis dan non-teknis serta kolaborasi lintas sektor dalam meraih proyek-proyek besar.
Dia menjelaskan bahwa mencapai tujuan tersebut melibatkan berbagai elemen seperti APBN, APBD, CSR, serta partisipasi sektor swasta.
Baca Juga: Live Hari Ini! Persiapan Nonton Debat Cawapres 2024, Ini Format, Panelis, dan Tema Utama!
"Sebelum proyek dari pemerintah pusat diimplementasikan di daerah, kami sebagai Walikota harus mempersiapkan standar atau kriteria yang jelas. Tanpa itu, kemungkinan besar proyek tersebut tidak akan terealisasi. Kami sebagai Walikota harus mempersiapkan berbagai aspek non-teknis, seperti relokasi, dan bernegosiasi dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai atau rel kereta api," ungkap Gibran.
"Selain itu, kerjasama juga menjadi hal yang krusial; tidak semua proyek menggunakan dana dari APBN saja, sebagian menggunakan APBN bersama APBD yang juga sering kali mendapat bantuan dari pihak lain seperti Gubernur Ganjar, yang mewakili kolaborasi dari berbagai pihak seperti CSR, serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," lanjut Gibran dalam debat.
Debat ini mengungkapkan perbedaan pendapat mengenai strategi pembangunan yang adil dan merata di Indonesia.
Diskusi tersebut menekankan pentingnya persiapan yang matang, kerjasama lintas sektor, dan keberadaan kriteria yang jelas untuk memperoleh proyek-proyek besar yang dapat memberikan dampak yang signifikan pada kemajuan daerah.
Pertukaran argumen antara Gibran dan Muhaimin di panggung Cawapres merefleksikan kompleksitas tantangan pembangunan nasional.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: nolmeter.com
Artikel Terkait
Tripolar Golkar, Nasdem, dan Gerindra Kuasai Peta Politik Sulawesi Selatan
Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,4 Triliun dan Reklamasi Lahan ke Negara
Unhas dan KLHK Jalin Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim
Amnesty International: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Berpola dan Terencana