Profesor Sembiring Bantah Tudingan Swasembada Bohong, Soroti Data Surplus Beras

- Rabu, 15 April 2026 | 10:00 WIB
Profesor Sembiring Bantah Tudingan Swasembada Bohong, Soroti Data Surplus Beras

Oleh: Prof. Hasil Sembiring

Pernyataan Feri Amsari yang menyebut swasembada pangan sebagai "kebohongan" Presiden Prabowo Subianto bukan cuma keliru. Tudingan itu, bagi saya, menyakiti hati 115 juta petani Indonesia yang kerja keras tiap hari demi pangan kita semua.

Opini semacam ini terasa lebih seperti pandangan sesat ketimbang hasil riset yang matang. Ibarat orang yang baru keluar dari goa, melihat secuil masa lalu, lalu merasa paling paham kondisi bangsa sekarang. Sungguh ironis, keinginan untuk dikenal justru ditempuh dengan merendahkan kerja keras orang lain.

Kasihan juga sih. Kalau mau tenar, kok malah memanfaatkan tudingan yang berpotensi jadi fitnah keji terhadap hasil jerih payah petani sendiri.

Saya teringat pesan almarhum Zainuddin MZ dalam suatu ceramah.

Beliau mengingatkan, jangan cari ketenaran dengan cara yang tidak baik. Bahkan dengan analogi ekstrem, "kalau ingin terkenal, jangan dengan cara konyol seperti kencing dari atas Monas".

Pesan itu jelas. Popularitas yang dibangun dari sensasi murahan bukanlah sebuah kehormatan.

Dalam falsafah Minangkabau ada ungkapan "mancari namo di ateh malu urang", alias mencari nama dengan mempermalukan orang lain. Apa yang terjadi hari ini, persis seperti itu.

Padahal, faktanya sangat gamblang dan datang dari banyak sumber. Data BPS untuk 2025/2026 menunjukkan kenaikan produksi gabah 7,1 juta ton, setara sekitar 4,1 juta ton beras. Ini menciptakan surplus, sementara kebutuhan nasional kita cuma 30,5 juta ton.

Produksi beras nasional tercatat 34,69 juta ton. Data ini punya akurasi dan validasi lapangan yang tinggi.

Menariknya, prediksi FAO dan USDA juga nyaris sama, menyebut produksi Indonesia di 2025 mencapai 34,6 juta ton beras. Jadi, ini bukan klaim sepihak.

Di sisi lain, ada satu hal penting yang mungkin luput dari Feri Amsari: luas panen malah naik 1,3 juta hektar atau 12,7% dibanding 2024! Kenaikan ini bukan kebetulan. Ini hasil kerja sistematis yang bisa dihitung secara terbuka, berkat peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dari intensifikasi dan ekstensifikasi.

Perlu ditegaskan, data ini bukan dari Kementerian Pertanian, melainkan data independen nasional dan internasional. Presiden Prabowo melarang Kementan mengeluarkan data agar analisa yang bias macam ini tidak makin meracuni ruang publik.

Kalau dibedah, sumber kenaikan produksi itu berasal dari tiga program utama. Pertama, pompanisasi. Program pengelolaan air ini menjangkau 1,1 juta hektar lahan, dan jadi kontributor terbesar dengan hasil tambahan sekitar 6,05 juta ton gabah. Intinya, lahan yang cuma ditanam sekali, bisa jadi dua kali atau lebih.

Kedua, optimalisasi lahan (Oplah) rawa. Program ini menghidupkan kembali 800 ribu hektar lahan marginal di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Selatan. Kontribusinya sekitar 4,4 juta ton gabah.

Ketiga, cetak sawah baru. Meski baru 50 ribu hektar dan kontribusinya sekitar 2,6%, program ini penting untuk fondasi jangka panjang, menggantikan lahan pertanian yang telah dikonversi.

Dengan pendekatan realistis, realisasi tambahan produksi di 2025 sekitar 8,58 juta ton gabah, atau setara 4,55 juta ton beras. Makanya, catatan luar biasa ini mampu membalikkan IMPOR jadi SURPLUS!

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar