Faktanya, tahun 2024 kita masih impor 3,6 juta ton karena Elnino. Tahun 2025? NOL KILOGRAM impor beras medium. Angka ini konsisten dengan data resmi mana pun.
Ini bukan asumsi. Ini matematika produksi pangan nasional, karya nyata 115 juta petani dan teknokrat pertanian.
Dengan tambahan itu, Indonesia jelas surplus. Kebutuhan terpenuhi, bahkan ada cadangan kuat. Stok beras pemerintah di Bulog per 13 April 2026 mencapai 4,7 juta ton tertinggi sepanjang sejarah. Ini stok negara, dicatat dan diaudit BPK. Mustahil direkayasa karena konsekuensi hukumnya serius. Artinya, tak ada ruang untuk kebohongan di sini.
Bahkan dalam definisi global FAO, swasembada pangan masih mentoleransi impor sampai 10%. Posisi kita sekarang sudah sangat kuat. Kalau semua fakta ini masih disebut kebohongan, ya masalahnya bukan pada data, tapi pada cara dia memahami realitas.
Memang sulit sih bagi orang awam memahami angka-angka teknis ini. Tapi tak apa, yang penting kita semua bisa menikmati beras dari petani negeri sendiri.
Namun begitu, ketika swasembada disebut bohong dan produksi tidak dipercaya, implikasinya jelas: membuka ruang impor. Dan impor berarti mengalihkan kesejahteraan dari petani Indonesia ke petani Thailand, Vietnam, atau Kamboja.
Di titik ini, pernyataan Feri Amsari tidak lagi netral. Ini menunjukkan keberpihakan pada pihak asing. Siapa pun yang menolak swasembada pangan Indonesia, patut diduga mendorong impor. Artinya, secara tak langsung berpihak pada petani asing dan melemahkan petani dalam negeri.
Tidak berlebihan kalau muncul dugaan ada kedekatan dengan kepentingan impor atau jejaring mafia pangan yang 76 tersangkanya sudah diproses hukum. Jika narasi seperti ini terus disebar tanpa dasar, bukan tak mungkin penggiat pertanian akan menempuh jalur hukum karena berpotensi jadi pembohongan publik.
Oh ya, perlu diluruskan juga. Feri Amsari bukan profesor. Media tidak seharusnya salah mengutip atau membangun citra akademik yang tidak sesuai. Jangan sampai publik disesatkan oleh label gelar. Pertanian itu sektor kompleks, butuh pemahaman lapangan, produksi, hingga distribusi.
Kalau mau bicara pertanian, ya belajarlah dulu. Bila perlu kursus kalau dirasa berat. Jangan cuma bermodal S2 luar negeri, lalu merasa bisa menilai sektor yang begitu luas. Jangan sampai kurang literasi, tapi sudah berani menuduh bohong di ruang publik.
Kalau memang belum paham, sebaiknya belajar lagi. Masuk ke dunia pertanian, pahami sawah, pahami petani. Agar tidak terus-terusan keliru. Kengeyelan Anda cuma simbol terbatasnya pengetahuan.
Pada akhirnya, kesimpulannya jelas. Sikap Feri Amsari yang menolak dan menuduh swasembada pangan bohong adalah sikap yang melukai 115 juta petani Indonesia. Patut diduga motifnya antek asing pro-impor, berpihak pada petani luar, dan pengkhianatan terhadap kepentingan bangsa.
Opini Anda jelas berpihak pada petani Thailand, Vietnam, Kamboja. Ini posisi yang merugikan bangsa sendiri.
Maka, tidak ada pilihan lain. Ayo petani bergerak! Satukan langkah melawan kepentingan asing. Lawan siapa pun yang melemahkan kedaulatan pangan, termasuk Feri Amsari!
Arogansi sok paham dan tantangan debat di ruang publik tak akan memberi simpati dari petani lokal. Tidak menutup kemungkinan nanti penggiat pertanian akan melaporkan ini ke kepolisian karena pernyataan Anda adalah bukti pembohongan publik.
Tunggu saja.
Artikel Terkait
Hornets Singkirkan Heat di Drama Lima Detik Terakhir Play-In NBA
Napi Korupsi Nikel Keluyuran ke Warung Kopi Usai Sidang, Pengawas Diperiksa
Bupati Takalar Jajaki Investasi China untuk Hilirisasi Sektor Unggulan
Pemerintah Tegaskan Jalur Haji Furoda 2026 Resmi Ditutup