Saham Sawit Terus Melaju Didorong Optimisme Mandatori B50

- Selasa, 14 April 2026 | 11:15 WIB
Saham Sawit Terus Melaju Didorong Optimisme Mandatori B50

Pasar saham lagi-lagi diramaikan oleh emiten sawit. Selasa (13/4/2026) ini, saham-saham perkebunan dan produsen CPO melanjutkan pesta kenaikan mereka. Momentum positif dari hari sebelumnya ternyata masih punya tenaga.

Data BEI per pukul 10.31 WIB menunjukkan, mayoritas saham di sektor ini bergerak di zona hijau. Yang paling mencolok adalah PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). Sahamnya melesat 17,20 persen ke level Rp920 per unit. Ini sekaligus mencatatkan reli kelima hari berturut-turut untuk SIMP, setelah sehari sebelumnya sudah melambung 18,05 persen.

Tak sendirian, kenaikan serupa terjadi di banyak emiten lain. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) menguat 7,10 persen ke Rp1.660. Di belakangnya, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 6,28 persen ke Rp2.520.

Masih ada sederet nama lain yang ikut merasakan angin segar. PT Gozco Plantations (GZCO) naik 5,31 persen, disusul PT Sinar Mas Agro (SMAR) 4,88 persen, dan PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSSS) 3,23 persen. Penguatan lebih moderat terlihat pada saham-saham seperti Tunas Baru Lampung (TBLA), Dharma Satya Nusantara (DSNG), Triputra Agro Persada (TAPG), dan Eagle High Plantations (BWPT). Sementara itu, Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) dan Astra Agro Lestari (AALI) juga mencatatkan kenaikan, meski di bawah 2 persen.

Lalu, apa yang mendorong optimisme ini? Sorotan utama tertuju pada kebijakan mandatori biodiesel B50 yang rencananya berlaku mulai 1 Juli 2026. Banyak yang yakin, langkah ini bakal mengerek harga CPO.

Riset Indo Premier Sekuritas yang terbit 7 April lalu punya pandangan serupa. Mereka bilang, B50 berpotensi mengencangkan pasokan global dan mendongkrak harga CPO untuk beberapa tahun ke depan.

"Penerapan B50 diperkirakan menyerap sekitar 3 juta ton CPO per tahun. Itu setara dengan 4 persen permintaan global. Jadi, jelas ini pendorong kuat untuk tren kenaikan harga," jelas analis Indo Premier Sekuritas.

Berdasarkan analisis itu, Indo Premier menaikkan proyeksi harga rata-rata CPO untuk 2026 menjadi MYR4.600 per ton. Angka itu naik 13 persen dari estimasi sebelumnya. Bahkan untuk 2027-2028, harga diproyeksikan merangkak naik ke level MYR5.000 per ton per tahun. Faktor pendorongnya beragam, mulai dari implementasi penuh B50, potensi dampak El Niño yang mengencangkan pasokan, sampai produktivitas kebun yang kurang maksimal.

Di sisi lain, kebijakan ini juga punya tujuan strategis: memperkuat ketahanan energi nasional. Apalagi di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Dukungan subsidi yang lebih jelas, seiring harga minyak di kisaran USD100 per barel dan kenaikan pungutan ekspor, dinilai akan memperkuat ekosistem ini.

Dengan prospek harga yang lebih cerah, Indo Premier tak ragu menaikkan estimasi laba sektor sawit untuk 2026-2027 sebesar 15-20 persen. Mereka bahkan mengubah rekomendasi sektor menjadi overweight, dari sebelumnya netral. Valuasi saat ini dinilai masih menarik, membuka peluang untuk re-rating.

Namun begitu, ada sedikit angin berbeda dari pasar berjangka. Kontrak futures CPO Malaysia justru melemah lebih dari 1 persen pada Selasa (14/4). Ini memotong kenaikan hari sebelumnya. Pelemahan terjadi seiring turunnya harga minyak mentah dan minyak nabati pesaing, dipicu harapan akan dialog damai AS-Iran yang meredakan ketegangan pasokan.

Kontrak acuan untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives turun 1,45 persen ke 4.489 ringgit per ton. Padahal Senin kemarin masih menguat.

Fundamentalnya sederhana: ketika harga minyak mentah jatuh, daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel ikut berkurang. Harga minyak kedelai di Dalian dan Chicago juga melemah, dan pergerakan minyak sawit seringkali mengikuti kompetitornya di pasar minyak nabati global.

Jadi, meski sentimen fundamental jangka panjang terlihat kuat berkat B50, pasar tetap harus berhadapan dengan gejolak harga harian yang dipengaruhi banyak faktor. Investor tampaknya perlu menyiapkan strategi yang cukup luwes.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar