Ia bahkan menyebutnya sebagai pemborosan. “Jika diterapkan pada seluruh LCPKS di Indonesia maka hal itu dapat dipandang sebagai pemborosan uang negara karena hampir seluruh kebutuhan pupuk di Indonesia berasal dari pupuk impor,” tegas Basuki. Pendekatan berlebihan itu, di matanya, jelas bertentangan dengan prinsip ekonomi sirkular yang mengedepankan pemanfaatan kembali sumber daya.
Lalu, Seperti Apa Model yang Ideal?
Basuki punya usulan konkret. Alih-alih mengolahnya hingga ‘bersih’ total, LCPKS sebaiknya diolah hingga mencapai BOD sekitar 3.000–5.000 mg/l saja sebelum diaplikasikan ke lahan. Pada tingkat itu, bahan organiknya masih tersedia dan berguna, namun sudah cukup stabil dan relatif aman bagi lingkungan. Tentu saja, pengelolaannya tidak boleh asal. Perlu ada perhatian serius pada parameter kimia tanah, termasuk upaya pengendalian kondisi reduksi untuk mencegah terbentuknya gas metana yang berbahaya.
Optimalisasi seperti ini, jika dijalankan, bisa memberi dampak ganda. Di satu sisi, kebutuhan pupuk kimia bisa ditekan. Di sisi lain, biaya produksi perkebunan sawit juga ikut turun. Efisiensi semacam inilah yang pada akhirnya berpotensi memperkuat daya saing industri nasional di kancah global.
“Pemanfaatan LCPKS bukan sekadar solusi limbah,” pungkas Basuki. “Ini strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui efisiensi nutrisi dan pengurangan impor.”
Ia menekankan, kebijakan ke depan harus lebih cerdas. Tidak cuma menetapkan batas mutu limbah secara kaku, tetapi juga perlu mengatur volume aplikasi, periode pemberian, serta sistem pengawasan yang ketat. Intinya, regulasi harus mampu menyeimbangkan dua kepentingan besar: perlindungan lingkungan dan kebutuhan produktivitas pertanian yang berkelanjutan. Sebuah tantangan yang tidak mudah, tapi jelas sangat mungkin untuk diwujudkan.
Artikel Terkait
Uji Jalan B50 Capai 70%, Target Implementasi Juli 2026
KPK Ungkap Awal OTT Bupati Tulungagung Berawal dari Laporan Warga
Minat Generasi Muda dan Dukungan Kebijakan Dorong Tren Hunian Hijau di Perkotaan
Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI, Fokus pada Tugas Kebangsaan