Uji Jalan B50 Capai 70%, Target Implementasi Juli 2026

- Minggu, 12 April 2026 | 21:00 WIB
Uji Jalan B50 Capai 70%, Target Implementasi Juli 2026

Uji jalan untuk biodiesel B50 terus digeber pemerintah. Ini adalah tahap krusial sebelum nantinya diterapkan secara wajib di seluruh Indonesia. Progresnya? Sudah lumayan, sekitar 60 sampai 70 persen jalan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bilang, pengujiannya dilakukan pada berbagai jenis kendaraan dan mesin. Mulai dari mobil biasa yang kita pakai sehari-hari, sampai alat berat dan transportasi umum. Targetnya sih, semua rangkaian uji jalan ini bisa kelar antara Mei atau Juni 2026. Kalau sesuai rencana, implementasi B50 bisa dimulai pada 1 Juli tahun itu.

Pengujiannya dilakukan bertahap, karena karakter mesin di tiap sektor kan beda-beda. Salah satu yang jadi fokus utama adalah sektor pertambangan, yang memang sangat bergantung pada solar.

Menurut Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, hasil sementara cukup menggembirakan.

“Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin,” ujarnya.

Nah, uji coba ini nggak cuma lihat performa mesin doang. Mereka juga menilai kualitas bahan bakar, daya tahan operasional, plus stabilitasnya saat disimpan.

Bagaimana Hasil Uji Coba Sejauh Ini?

Hingga akhir Maret lalu, pengujian ketahanan dinamis bahkan sudah melampaui 900 jam operasi. Dan yang penting, tanpa ada gangguan mesin yang disebabkan oleh kualitas bahan bakar. Hasil ini tentu jadi sinyal positif buat rencana naiknya bauran biodiesel dari B40 ke B50.

Cakupan pengujiannya luas banget. Mereka uji coba di alat berat pertambangan, kereta api, kapal, mobil pribadi, sampai mesin diesel industri. Jadi, cukup komprehensif.

Ada Kenaikan Konsumsi, Tapi Masih Wajar

Meski performa mesin stabil, ada catatan kecil dari uji coba. Tercatat ada kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12 persen dibandingkan pakai B40. Angka ini memang naik tipis.

Namun begitu, pemerintah menilai peningkatan tersebut masih dalam batas wajar. Belum berdampak signifikan terhadap produktivitas operasional di lapangan. Pengembangan B50 ini sendiri dinilai sebagai langkah strategis. Tujuannya untuk memperkuat kemandirian energi nasional, dengan memanfaatkan bahan baku dalam negeri. Harapannya, ketergantungan pada impor bahan bakar fosil bisa ditekan.

Eniya juga menegaskan, kebijakan ini berpotensi memberi nilai tambah yang nyata bagi perekonomian nasional.

Masalah Pasokan Jadi Tantangan Besar

Di sisi lain, meski hasil uji teknis menjanjikan, tantangan utamanya justru ada di kesiapan pasokan biodiesel itu sendiri. Lembaga riset Fitch Solutions memperkirakan kebutuhan solar Indonesia pada 2026 mencapai 40,9 juta kiloliter. Kalau pakai bauran B50, kebutuhan biodieselnya bakal melonjak jadi sekitar 20,5 juta kiloliter.

Masalahnya, kapasitas produksi dalam negeri saat ini baru sekitar 19,6 juta kiloliter. Ada selisih yang cukup jelas. Ini berpotensi menimbulkan tekanan pasokan kalau nggak diantisipasi dari sekarang.

Intinya, keberhasilan B50 nggak cuma ditentukan mesin yang kuat. Tapi juga kesiapan industri hulu dan jaringan distribusinya. Pemerintah sekarang ada di fase yang sangat menentukan: memastikan uji jalan selesai tepat waktu, pasokan cukup, dan transisi energi ini berjalan mulus tanpa ganggu stabilitas nasional.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar