Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Nasib Gencatan Senjata Dipertanyakan

- Minggu, 12 April 2026 | 21:20 WIB
Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Nasib Gencatan Senjata Dipertanyakan

Upaya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, yang difasilitasi Pakistan, akhirnya buntu. Kini, nasib gencatan senjata yang sedang berjalan di Iran pun dipertanyakan.

Menurut laporan Al-Jazeera dan CNN pada Minggu (12/4/2026), pembicaraan ini berlangsung dalam jeda pertempuran sebuah gencatan senjata dua pekan yang memberi ruang bagi diplomasi. Dari sisi AS, delegasi dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance. Sementara Iran mengirimkan Mohammad Bagher Ghalibaf, sang Ketua Parlemen.

Perundingan alot itu dimulai Sabtu lalu. Dan setelah berjalan nyaris seharian penuh, tepatnya 21 jam dalam format maraton, semuanya berakhir tanpa titik terang. Tak ada kesepakatan yang bisa dicatat.

Dalam konferensi pers di Islamabad, Vance mengakui bahwa diskusi memang berlangsung substantif.

"Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya," ujarnya.

Namun begitu, dia dengan cepat menyebut sisi buruknya. Menurut Vance, kegagalan mencapai kata sepakat justru lebih merugikan Tehran.

"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," tegas Vance.

Di sisi lain, respons dari Tehran terdengar lebih dingin dan sudah mengantisipasi hasil ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, lewat siaran televisi pemerintah IRIB, menyatakan bahwa mustahil berharap terlalu banyak dari satu sesi perundingan.

"Tentu saja, sejak awal, kita seharusnya tidak mengharapkan untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu," kata Baghaei.

Dengan kata lain, jalan dialog masih terlihat panjang. Dan gencatan senjata yang rentan itu kini menggantung, menunggu langkah berikutnya dari kedua kubu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar