Wamen Pertanian Soroti Impor Gula Rafinasi Tekan Harga Petani

- Kamis, 09 April 2026 | 22:00 WIB
Wamen Pertanian Soroti Impor Gula Rafinasi Tekan Harga Petani

Jakarta Derasnya arus impor gula rafinasi ternyata punya dampak yang cukup pelik di dalam negeri. Hal ini disoroti langsung oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Menurutnya, banjirnya gula impor itu bikin gula hasil petani lokal jadi susah laku.

Kondisi ini, tak bisa dipungkiri, turut menekan harga di tingkat petani. Stabilitas pasar gula nasional pun akhirnya ikut terganggu.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4/2026). Di sana, Wamentan yang akrab disapa Mas Dar menegaskan satu hal: penguatan sektor hilir itu krusial. Langkah ini strategis untuk memastikan hasil panen petani terserap dengan baik dan punya nilai tambah yang berkelanjutan.

“Intinya swasembada gula itu banyak menanam, banyak panen, dan banyak produksi,” ujarnya.

“Tapi yang terjadi sekarang paradoks, kita masih impor gula sementara gula hasil petani justru tidak laku.”

Memang, upaya pemerintah di sektor hulu sudah berjalan masif. Berbagai program digulirkan untuk mendongkrak produksi tebu. Namun begitu, lemahnya pengaturan di hilir justru menciptakan paradoks yang menyakitkan. Menurut Sudaryono, akar masalahnya ada di membanjirnya gula rafinasi ke pasar konsumsi padahal seharusnya ia untuk kebutuhan industri.

Alhasil, harga gula petani jadi tidak kompetitif. Semangat mereka untuk menanam tebu pun ikut menurun.

“Kalau impor gula dibatasi, seharusnya gula petani laris. Tapi kenyataannya tidak, karena ada kebocoran dari gula rafinasi ke pasar rumah tangga. Ini yang harus kita benahi bersama,” tegasnya.

Ia pun menekankan pentingnya penguatan regulasi dan pengawasan distribusi. Salah satu usulan yang disambut baik adalah pengaturan tata niaga gula melalui satu pintu oleh BUMN. Dengan cara itu, distribusi bisa lebih terkendali.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar