Ahli: Konsumsi BBM Berlebih Picu Bencana Iklim dan Ancaman bagi Generasi Mendatang

- Minggu, 05 April 2026 | 17:00 WIB
Ahli: Konsumsi BBM Berlebih Picu Bencana Iklim dan Ancaman bagi Generasi Mendatang

Jadi, intinya ada pada efisiensi. Langkah-langkah sederhana bisa memberi dampak besar. Misalnya, mengurangi perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Atau, kenapa tidak coba berbagi kendaraan dengan tetangga atau rekan kerja? Beralih ke transportasi umum juga bisa jadi pilihan konkret yang menyehatkan kota.

Di sisi lain, kondisi krisis yang kita hadapi ini justru bisa dilihat sebagai sebuah momentum. Ya, momentum untuk mengubah pola konsumsi energi yang selama ini boros. Kenaikan harga BBM atau gangguan pasokan, seberat apa pun, sebenarnya bisa mendorong kesadaran kolektif.

“Ini momentum untuk berubah. Kita tidak bisa terus mengandalkan sumber energi yang terbatas dan merusak lingkungan,” tegas Amanda.

Efeknya memang luas. Penggunaan BBM berlebihan tak hanya merusak lingkungan dalam skala global, tapi juga meracuni kehidupan sehari-hari. Polusi udara yang makin pekat memicu beragam penyakit pernapasan. Sementara itu, tekanan terhadap alam bisa menggerogoti ketahanan pangan dan mengancam ketersediaan air bersih.

Tanggung Jawab untuk Generasi Mendatang

Amanda kemudian mengingatkan satu hal penting yang seringkali terlupa. Dampak paling berat dari konsumsi energi kita yang serampangan ini bukan akan kita yang rasakan sepenuhnya.

Melainkan, generasi mendatang. Anak-anak kita, dan cucu-cucu kita kelak.

“Yang sering kita lupakan, generasi mendatang akan menanggung beban terbesar dari keputusan kita hari ini,” tuturnya dengan nada prihatin.

Karena itulah, perubahan gaya hidup menuju penggunaan energi yang lebih bijak dan hemat tidak bisa ditunda lagi. Harus dimulai dari sekarang. Dari hal-hal kecil di sekitar kita. Sebab, masa depan itu dibangun dari pilihan-pilihan yang kita buat hari ini.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar