Namun begitu, ceritanya berbeda di sudut lain. Tidak semua sepakat. Ahmad Khalil, yang masih duduk di kelas X, mengaku punya perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasakan manfaatnya.
"Bagusnya sih, kita jadi lebih terlatih berpikir kritis. Lalu, interaksi dengan teman juga meningkat ngobrol langsung, bukan lewat layar."
Tapi di sisi lain, Khalil juga merasakan kendala yang cukup merepotkan. Terutama soal akses informasi cepat dan dokumentasi tugas.
"Kadang-kadang jadi tidak setuju juga. Misalnya, ada tugas di papan tulis yang belum sempat dicatat, kan enak kalau bisa difoto. Apalagi kalau kita harus buru-buru pulang, ya jadi kesulitan."
Jadi, di balik kebijakan yang tampaknya sederhana ini, ternyata ada dinamika yang cukup kompleks. Ada yang merasakan peningkatan fokus dan literasi, ada pula yang merasa kegiatan belajar justru sedikit terganggu karena hal-hal teknis. Perdebatan ini, tampaknya, masih akan terus berlangsung di koridor-koridor sekolah.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Tegaskan Anggaran Sewa Helikopter Rp 2 Miliar Belum Direalisasi
Arus Balik Lebaran 2026 Resmi Berakhir, 3,38 Juta Kendaraan Masuk Jabotabek
Kebocoran Diduga Picu Ledakan dan Kebakaran di SPBE Cimuning Bekasi
Camat Pimpin Gotong Royong Bersihkan Irigasi Palakka di Bone