Kenaikan Bisa Sentuh Rp2.000 per Liter
Pendapat senada datang dari Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios. Menurut perhitungannya, kenaikan BBM nonsubsidi bisa mencapai Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter.
Dengan skenario itu, Pertamax bisa berada di angka Rp13.800–Rp14.300. Sementara Pertamina Dex berpeluang melambung ke level Rp16.000–Rp16.500 per liter.
Bhima bilang, tekanan nggak cuma dari pasar global. Beban kompensasi energi yang harus dipikul pemerintah juga memberatkan. Dia mengingatkan, kenaikan BBM berisiko memicu inflasi, khususnya di sektor pangan, yang bisa tembus 6–7 persen.
“Sementara Indonesia belum punya mitigasi krisis energi dibanding negara lainnya. Ini disebut quite before the storm (tenang sebelum badai), terlalu santai dan anggap enteng,”
tandasnya.
Jika anggaran tidak direalokasi, beban subsidi bisa membengkak dan akhirnya membebani keuangan Pertamina.
Bagaimana Mekanisme Penyesuaiannya?
Sebagai catatan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini memang dilakukan rutin tiap tanggal 1. Dasarnya adalah Keputusan Menteri ESDM tentang formula harga dasar. Akhir-akhir ini, kenaikan bertahap sudah terjadi sejak awal Maret, berkisar Rp200 sampai Rp950 per liter. Bahkan, di beberapa SPBU swasta, kenaikan pernah mencapai lebih dari seribu rupiah per liternya.
Artikel Terkait
Komnas HAM Periksa Polda Metro Terkait Penyerangan Aktivis KontraS
Polisi Pastikan Stok BBM di Bone Normal, Antrian Panjang Disebabkan Kecemasan Warga
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Artileri di Lebanon Selatan
Pemerintah Genjot Biofuel dan Bioetanol untuk Kemandirian Energi