Pemerintah Genjot Biofuel dan Bioetanol, Fokus Baru Setelah Pangan
Jakarta, Senin, 30 Maret 2026
Langkah pemerintah untuk mempercepat hilirisasi sektor pertanian kini semakin kencang. Fokusnya bergeser ke penguatan biofuel dan bioetanol. Ini bukan sekadar wacana, tapi langkah strategis yang digeber untuk mendorong kemandirian energi nasional. Semuanya berangkat dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, menanggapi situasi geopolitik global yang belakangan ini makin panas dan tak menentu.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, akselerasi hilirisasi ini jadi prioritas. Tujuannya jelas: mendorong energi yang bersumber dari dalam negeri, mengurangi ketergantungan dari luar.
“Waktu rapat minggu lalu, sebelum Presiden berangkat ke Jepang dan Korea, beliau menyampaikan pesan jelas: kita harus akselerasi hilirisasi. Untuk pertanian, yang pertama adalah biofuel. Kondisi geopolitik memanas, kita butuh langkah cepat,” ujar Amran usai rapat di Kantor Pusat Kementan.
Menurutnya, fondasi pangan sudah dianggap kuat. Alhamdulillah, bahkan di bulan Ramadan ini, harga beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Nah, sekarang saatnya beralih. Sasaran berikutnya adalah kemandirian energi.
“Yang kedua adalah janji Bapak Presiden, kita akan setop impor solar dan ganti dengan biofuel sawit B50. Itu setara 5,3 juta ton,” tambahnya.
Selain sawit untuk biofuel, ada lagi yang digadang-gadang: bioetanol. Kementan mendorong pengembangannya lewat program E20. Apa itu? Campuran etanol dan bensin dengan komposisi 20 persen etanol.
“Mimpi kita E20. Bahannya dari mana? Jagung, ubi kayu, tebu. Semua bisa tumbuh subur di sini,” jelas Amran dengan semangat.
Potensinya besar. Bahkan produk samping industri gula, seperti molase atau tetes tebu yang selama ini diekspor, bisa diolah jadi etanol. “Bahan baku yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Ini bisa dijadikan etanol,” ujarnya.
Intinya, ke depan kerja sama semua pihak jadi kunci. “Artinya bagaimana kita mandiri energi, mandiri pangan. Ini kita lakukan bersama-sama,” tekan Mentan.
Di sisi lain, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono melihat peran sektor pertanian kini kian strategis. Tak cuma soal pangan, tapi juga energi.
“Swasembada pangan sudah kita raih. Insyaallah kita akan bergeser. Salah satunya adalah kemandirian energi, di mana pertanian menyumbang dari sisi bioenerginya,” kata Sudaryono.
Untuk mempercepat semua ini, kolaborasi dengan BUMN pangan diperkuat. Mereka akan jadi motor penggerak di lapangan.
Dukungan juga datang dari Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata. “Kami sudah berkoordinasi dengan Mentan untuk tindak lanjut arahan Presiden. BUMN punya hubungan dekat dengan Kementan. Kita akan membuka potensi-potensi di beberapa BUMN agar kita jadi lebih mandiri dan independen,” terang Tedi.
Dengan akselerasi program biofuel dan bioetanol ini, targetnya ganda. Selain kemandirian energi berbasis pertanian, juga ada tujuan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan tentu saja, kesejahteraan petani.
Sinergi antara Kementerian Pertanian, BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan bisa membuat program ini berjalan lancar. Tepat sasaran. Jika semua bergerak, ketangguhan Indonesia menghadapi dinamika global bukan lagi sekadar impian.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp25.000 per Gram pada Perdagangan Selasa
BMKG Minta Warga Pesisir Sulsel Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan dan Angin Kencang Diprakirakan Terjadi Selasa
Wakil Bupati Bone Inspeksi Mendadak Tanjung Pallette, Pastikan Kebersihan dan Pelayanan Jadi Prioritas
Kiper Muda Belgia Senne Lammens Resmi Dinobatkan sebagai Transfer Terbaik Premier League Musim Ini