JAKARTA Laporan forensik terbaru soal kematian Kurt Cobain tiba-tiba viral lagi. Kali ini, sekelompok peneliti independen berani menyuarakan hal yang selama ini jadi bisikan di kalangan penggemar: mereka menduga kuat ini bukan bunuh diri. Ada indikasi pembunuhan.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun sejak vokalis Nirvana itu ditemukan tewas. Tapi misterinya tak pernah benar-benar padam. Laporan yang dikutip media seperti Daily Mail itu mengklaim adanya sejumlah kejanggalan serius. Kejanggalan yang, kata mereka, tak sejalan dengan narasi bunuh diri yang selama ini dipegang otoritas.
Brian Burnett, pakar forensik yang memimpin tinjauan ulang ini, bicara cukup blak-blakan. Menurutnya, banyak detail yang "sulit dijelaskan" jika Cobain benar-benar mengakhiri hidupnya sendiri. "Skenario yang ada justru lebih konsisten dengan dugaan pembunuhan," katanya, "bukan tindakan bunuh diri spontan."
Mereka menyoroti kondisi fisik Cobain saat ditemukan. Diduga, dia lebih dulu mengalami overdosis heroin dalam dosis tinggi. Kalau sudah separah itu, kata tim ini, hampir mustahil baginya untuk melakukan tindakan rumit seperti menyiapkan dan menembakkan senjata api. Lalu ada luka tembak di kepala yang diduga bukan dilakukan sendiri.
Lingkungan TKP juga dianggap terlalu rapi. Pola darah, posisi senjata, penataan barang-barang semuanya terkesan kurang natural untuk sebuah peristiwa bunuh diri. Beberapa barang bukti, termasuk peluru dan dokumen, seolah diletakkan dengan sengaja.
Tak cuma itu. Catatan bunuh diri yang ditemukan pun dipertanyakan keaslian dan konteksnya. Gaya tulisan serta isinya dinilai tidak terlalu cocok dengan kondisi mental seseorang yang baru saja overdosis berat.
Namun begitu, klaim semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak 1994, teori alternatif selalu muncul silih berganti. Hanya saja, selalu mentah di hadapan kesimpulan resmi.
Otoritas setempat Kantor Pemeriksa Medis King County dan Kepolisian Seattle sampai detik ini bersikukuh. Mereka teguh pada kesimpulan awal: bunuh diri. Tidak ada bukti baru yang cukup kuat untuk membuka kembali penyelidikan, begitu kata mereka. Kasusnya tetap tertutup.
Cobain ditemukan meninggal di rumahnya di Seattle pada 5 April 1994. Kepergiannya di usia 27 tahun menjadi tragedi paling menyakitkan dalam sejarah musik modern, meninggalkan luka yang hingga kini masih terasa bagi jutaan penggemar.
Jadi, meski secara hukum kasus ini sudah selesai, laporan forensik terbaru ini seperti menyulut bara yang tak pernah padam. Ia menghidupkan kembali diskusi lama: apakah kita sudah tahu seluruh kebenaran di balik kematian ikon grunge itu? Atau masih ada potongan cerita yang sengaja atau tak sengaja tertinggal dalam gelap?
Artikel Terkait
Dokter Peringatkan Bahaya Terapi Api untuk Obati GERD dan Sesak Napas
PNM Berangkatkan 101 Nasabah Mekaar untuk Umroh sebagai Apresiasi
Baim Wong Tegaskan Perawatan di Korea untuk Stem Cell, Bukan Operasi Plastik
Menkes Peringatkan Risiko Fatal Nonaktifnya BPJS bagi 120 Ribu Pasien Kronis