MURIANETWORK.COM - Sebuah kelenteng tua bernama Xiao Yi Shen Tang atau Xuan Wu Zhen Tan berdiri tegak di tengah laut lepas, sekitar lima kilometer dari pesisir Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Bangunan berusia puluhan tahun itu, yang oleh warga setempat kerap disebut Kelenteng Timbul, tampak seolah mengapung di atas air, dijaga oleh seorang pria muslim bernama Slamet (74) yang telah mengabdikan hampir 30 tahun hidupnya untuk merawat tempat ibadah tersebut.
Perjalanan Setiap Hari ke Tengah Laut
Mengakses kelenteng ini bukanlah perkara mudah. Satu-satunya cara adalah dengan menumpang perahu klotok atau kapal wisata, menyeberangi lautan yang memisahkannya dari daratan. Setiap pagi, Slamet memulai perjalanannya dari rumahnya di kawasan pabrik di tepi pantai. Dengan ketekunan yang tak lekang waktu, ia tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB dan baru akan pulang saat matahari sore mulai merendah, sekitar pukul 17.00 WIB. Di hari Minggu, ia kerap bertahan lebih lama, menyambut pengunjung yang datang untuk beribadah atau sekadar menikmati ketenangan tempat itu.
Dari Penjaga Bergaji Hingga Pengabdian Tulus
Komitmen Slamet tidak selalu tanpa imbalan materi, meski akhirnya ia memilih jalan pengabdian yang lebih tulus. Awalnya, ia menerima bayaran untuk tugas penjagaannya. Namun, honor yang dirasa tidak mencukupi membuatnya memutuskan berhenti untuk sementara waktu.
"Dulu saya jaga pekong ini dengan bayaran Rp 400 ribu. Setelah itu saya berhenti karena tidak cukup," kenangnya.
Tak lama berselang, permintaan untuk kembali menjaga datang lagi. Kali ini, Slamet menyanggupinya tanpa bayaran tetap. Pilihan ini justru memberinya rasa kebebasan yang lebih besar.
Artikel Terkait
Pelatih PSBS Biak Buka Suara Soal Tunggakan Gaji Pemain yang Telah Dua Bulan
Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, Belasan Tentara AS Terluka
Arus Balik Lebaran 2026 Masih Dominan di Terminal Guntur Garut
Satgas PRR Serahkan 120 Unit Huntap di Tapanuli Selatan, Fase Rekonstruksi Dipercepat