Dilling, Kordofan Selatan Kota ini berubah jadi neraka pada Sabtu (28/3) lalu. Ledakan datang tiba-tiba, menghancurkan delapan rumah warga dan merenggut setidaknya 14 nyawa. Tak kurang dari 23 orang lainnya menderita luka-luka dalam serangan drone yang menghantam permukiman padat penduduk.
Menurut sejumlah saksi mata, serangan itu dilancarkan oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) bersama sekutunya, kelompok Sudan People's Liberation Movement-North. Mereka tampaknya tak peduli bahwa sasaran mereka adalah lingkungan tempat tinggal biasa, bukan medan perang.
Suasana panik langsung menyebar. Warga berhamburan keluar, berteriak mencari anggota keluarga yang tertimbun puing. “Rumah saya hancur berantakan dalam sekejap,” ujar seorang korban selamat yang enggan disebutkan namanya.
Ia menggambarkan bagaimana langit yang tenang tiba-tiba dipenuhi dengung mesin, diikuti gemuruh yang menggetarkan bumi.
Ini bukan kali pertama kawasan itu jadi sasaran. Sudan bagian selatan, khususnya Kordofan Selatan, sudah lama jadi ajang pertikaian bersenjata yang tak kunjung reda. Namun begitu, kekejaman serangan terbaru ini tetap mengejutkan banyak pihak. Korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dikhawatirkan masih akan bertambah mengingat parahnya kondisi beberapa korban luka.
Di sisi lain, belum ada pernyataan resmi dari kelompok RSF mengenai insiden memilukan ini. Situasi di lapangan masih sangat mencekam, dengan akses bantuan medis dan kemanusiaan yang sangat terbatas. Warga yang selamat kini mengungsi, ketakutan serangan serupa akan terulang kapan saja.
Artikel Terkait
79 Personel Gabungan TNI-Polri Diterjunkan dalam Operasi Antikejahatan Jalanan di Bekasi
KPK Dalami Dugaan Bupati Pekalongan Nonaktif Manfaatkan Pekerja Outsourcing untuk Mobilisasi Politik Pilkada 2024
Bank Sumut Jadi Sponsor Utama Piala AFF U19 2026, Erick Thohir Apresiasi Dukungan Pembinaan Sepak Bola Muda
Waisak Bersejarah: Perayaan Pertama Kali Digelar di Bundaran HI, Jakarta