Akibat lemparan benda keras itu, beberapa orang dari kedua pihak dilaporkan terluka. Seorang pemuda diamankan oleh petugas berpakaian sipil. Ada juga seorang ibu yang sempat pingsan dan harus digotong rekannya menjauh dari pusat kericuhan. Tekanan situasi jelas terasa.
Dorong-mendorong pun terjadi. Bahkan sebelumnya, beberapa warga sempat naik ke atas excavator yang dikawal puluhan petugas. Sebagai bentuk protes lebih lanjut, mereka membakar ban dan kayu di gerbang masuk Jalan Satando, membuat asap hitam mengepul.
Operasi yang dipimpin langsung Kasat Pol-PP Kota Makassar, Hasanuddin, ini akhirnya terpaksa mundur. Petugas dan excavator menarik diri sampai ke Jalan Kalimantan. Padahal, di pagi harinya, mereka terlihat sukses menggusur kios-kios di sempadan jalan itu.
Kapolres Pelabuhan Makassar, AKBP Rise Sandiyantanti, kemudian tiba di lokasi. Dia langsung menemui perwakilan warga, berusaha meredakan ketegangan yang sudah memuncak. Hingga berita ini diturunkan, pembicaraan antara kepolisian dan warga masih terus berlangsung, mencari titik terang.
Kericuhan di Jalan Satando ini, pada intinya, adalah potret perlawanan warga kecil. Resistensi itu muncul karena kebijakan penertiban dianggap mengancam langsung nafkah hidup mereka. Sebuah konflik klasik di perkotaan, antara ketertiban dan tuntutan untuk bertahan hidup.
Artikel Terkait
PSHK Desak Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Diadili di Pengadilan Umum
Bahlil: 20 Proyek Hilirisasi Tahap Awal Sudah Mulai, Investasi Capai Rp239 Triliun
Pokon, Hidangan Khas Toraja yang Sarat Makna dalam Ritual Rambu Solo
Video Viral: Juru Parkir di Makassar Acungkan Pisau Saat Bentrok dengan Warga