BOGOR – Di sela-sela rapat terbatas di Hambalang, Rabu lalu, Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi. Program ini, katanya, adalah kunci untuk menguatkan ketahanan energi nasional ke depannya.
“Dari 20 proyek tahap awal, sebagian sudah groundbreaking,” ujar Bahlil usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.
Ia melanjutkan, sisanya akan segera menyusul. Tak cuma itu, ada tambahan lagi 13 proyek hilirisasi yang sedang difinalisasi. Nilai investasinya? Cukup fantastis, sekitar 239 triliun rupiah.
Fokus pada Energi Alternatif
Namun begitu, hilirisasi bukan satu-satunya fokus. Pemerintah juga serius menggarap energi alternatif. Tujuannya jelas: mencapai swasembada energi.
Menurut Bahlil, Presiden Prabowo memberikan arahan khusus untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada. Mulai dari etanol, biodiesel berbasis CPO, sampai percepatan pengembangan energi baru terbarukan.
“Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO,” tegasnya.
Mengawasi Harga Komoditas
Di sisi lain, Bahlil juga menyoroti perkembangan harga komoditas. Batu bara dan nikel jadi perhatian utama. Sampai saat ini, kebijakan belum berubah. Tapi pemerintah terus memantau situasi pasar global dengan cermat.
“Yang penting adalah kita inginkan harganya bagus terus,” ungkapnya. Jika diperlukan, akan dipertimbangkan relaksasi produksi. Tentu saja, secara terukur dan hati-hati.
Arahan Presiden: Utamakan Kepentingan Nasional
Ada pesan kuat dari Prabowo dalam rapat itu. Bahlil menambahkan, Presiden menekankan agar pengelolaan sumber daya alam harus berorientasi pada kepentingan nasional. SDA adalah aset strategis, bukan komoditas biasa.
“Bapak Presiden memerintahkan kepada saya untuk bagaimana memperhatikan kepentingan negara, prioritas di atas segala-galanya,” jelas Bahlil.
Artinya, pengoptimalan harus memberi dampak nyata bagi penerimaan negara, khususnya dari sektor mineral.
Membangun Ekonomi yang Lebih Kuat
Ke depan, targetnya adalah sinergi. Hilirisasi harus optimal, transisi energi perlu didorong, dan keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar wajib dijaga.
Dengan langkah terpadu ini, harapannya struktur ekonomi nasional jadi lebih kokoh. Lebih mandiri, dan yang tak kalah penting, siap bersaing di panggung global.
Artikel Terkait
Menteri Pertahanan: Perwira Tinggi TNI Dihukum Seumur Hidup karena Korupsi Alutsista
IAPIM Makassar Kecam Penyanderaan Kapal Kemanusiaan oleh Israel, Desak Pemerintah Selamatkan 7 WNI
Prabowo: Puluhan Ribu Kapal Asing Curi Kekayaan Laut Indonesia Setiap Malam
Lima Siswi di Gowa Diamankan Polisi Usai Aniaya Siswi SMP hingga Viral, Dipicu Ucapan di Medsos