Rupiah Tembus Rp17.630 per Dolar, Ekonom Peringatkan Dampaknya Mulai Terasa di Desa

- Rabu, 20 Mei 2026 | 04:30 WIB
Rupiah Tembus Rp17.630 per Dolar, Ekonom Peringatkan Dampaknya Mulai Terasa di Desa

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus merosot, memicu kekhawatiran luas akan dampak ekonomi yang bakal dirasakan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pelosok desa. Pelemahan ini bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan ancaman nyata terhadap daya beli dan biaya hidup sehari-hari.

Per Senin (18/5/2026) pagi, dolar AS telah menembus level Rp17.630. Angka ini mencatatkan pelemahan signifikan yang langsung berimplikasi pada berbagai sektor. Meskipun masyarakat desa tidak bertransaksi langsung dengan mata uang asing, dampaknya tetap terasa melalui rantai pasok barang dan jasa yang terikat dengan kurs.

Ekonom dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, menjelaskan bahwa perekonomian rakyat kecil kerap menjadi pihak terakhir yang menyadari gejolak kurs, namun paling cepat merasakan dampak kenaikan harga. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara gejolak di pasar keuangan dengan realitas di lapangan.

"Masyarakat desa mungkin tidak bertransaksi memakai dolar, tetapi pupuk, BBM, logistik, pakan ternak, obat-obatan, mesin pertanian, bahkan sebagian bahan pangan sangat dipengaruhi kurs," ujarnya.

Dengan kata lain, lonjakan nilai dolar secara otomatis mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi barang-barang kebutuhan pokok. Akibatnya, harga-harga di tingkat konsumen, terutama di daerah yang bergantung pada pasokan dari luar, berpotensi melambung dalam waktu dekat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar