Anutin Akui Kesalahan Pemerintah, 176 Nyawa Melayang Akibat Banjir Thailand

- Senin, 01 Desember 2025 | 19:42 WIB
Anutin Akui Kesalahan Pemerintah, 176 Nyawa Melayang Akibat Banjir Thailand

Hujan tak henti-hentinya mengguyur Thailand pekan lalu, mengubah jalan-jalan di selatan menjadi sungai yang ganas. Banjir dan longsor itu, seperti dikonfirmasi data, telah menelan korban jiwa sebanyak 176 orang. Di tengah kepiluan itu, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul tampil dengan pernyataan yang jarang terdengar dari seorang pemimpin: sebuah pengakuan bersalah.

“Pemerintah memang punya kekurangan, saya akui itu,” ucap Anutin.

Ia menyampaikan hal itu saat berkunjung ke Hat Yai, wilayah yang porak-poranda diterjang banjir. Menurutnya, tanggung jawab penuh ada di pundaknya.

“Ketika ada kematian, ketika ada kehilangan, ketika orang-orang tidak bisa tinggal di rumah mereka, itu semata-mata kesalahan perdana menteri,” sambungnya tegas.

Kunjungannya ke selatan bukan sekadar formalitas. Di hadapan warga yang rumahnya terendam, Anutin berjanji akan mendorong proses pemulihan secepat mungkin. Wilayah itu memang yang paling parah terdampak. Penyebabnya adalah Siklon Senyar, sebuah badai tropis ganas yang muncul akhir November lalu dan memicu cuaca ekstrem mirip dengan yang dialami tetangganya, Indonesia.

Namun begitu, musibah ini bukan cuma masalah Thailand belaka. Seolah bergantian, bencana serupa melanda beberapa negara di Asia. Sri Lanka, Malaysia bagian utara, dan Pulau Sumatra di Indonesia juga berjuang melawan air yang mengamuk. Rangkaian tragedi ini, seperti dilaporkan, telah merenggut lebih dari 1.100 nyawa. Angka yang sungguh memilukan.

Jadi, Thailand hanyalah satu dari banyak titik di peta Asia yang sedang berduka. Di sisi lain, pengakuan jujur dari pemimpinnya setidaknya memberi nuansa lain: sebuah pengakuan bahwa di tengah amuk alam, ada ruang untuk kejujuran dan pertanggungjawaban.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar