Konflik di Selat Hormuz Pangkas Produksi Minyak Irak Hingga 70 Persen

- Selasa, 10 Maret 2026 | 07:55 WIB
Konflik di Selat Hormuz Pangkas Produksi Minyak Irak Hingga 70 Persen

Laporan dari Irak selatan menggambarkan situasi yang suram. Produksi minyak mentah di wilayah itu anjlok drastis, turun hingga 70 persen. Penurunan tajam ini terjadi sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mulai berkecamuk. Angkanya cukup mencengangkan: dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari, kini produksi harian rata-rata hanya menyentuh 1,3 juta barel saja.

Seorang pejabat Basra Oil Company mengonfirmasi keadaan ini. Ia menjelaskan bahwa fasilitas penyimpanan minyak mentah sudah penuh, tak mampu menampung lebih banyak lagi.

“Penyimpanan minyak mentah telah mencapai kapasitas maksimum. Sisa produksi setelah pengurangan besar-besaran akan digunakan untuk memasok kilang-kilang minyak negara,” ujarnya.

Artinya, aktivitas ekspor mau tak mau harus dipangkas. Irak pun tercatat sebagai negara Teluk pertama yang terpaksa mengambil langkah pengurangan produksi. Pemicu utamanya adalah gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global. Menyusul Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab juga mengumumkan kebijakan serupa tak lama kemudian.

Memang, Irak masih melakukan pemuatan minyak untuk dikirim ke luar negeri. Namun menurut pantauan Reuters, volumenya jauh sekali dari level normal. Buktinya, pada hari Minggu lalu hanya dua kapal tanker yang berhasil dimuat di aurak. Masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak.

Kedua kapal itu adalah Cospearl Lake yang berbendera Hong Kong dan Yuan Hua Hu, sebuah VLCC berbendera China. Berdasarkan data pelacakan Marine Traffic, kedua kapal tersebut masih berada di perairan Teluk Persia hingga saat ini.

Dampaknya terhadap angka ekspor sangat nyata. Rata-rata ekspor minyak harian Irak, yang biasanya mencapai 3,33 juta barel, merosot tajam menjadi hanya 800.000 barel pada hari Minggu. Sebuah kejatuhan yang dramatis.

Seorang pejabat di kementerian perminyakan Irak tidak menyembunyikan kekhawatirannya. Situasi ini, katanya, sangat serius.

"Ini adalah ancaman operasional paling serius yang dihadapi Irak dalam lebih dari 20 tahun," tegasnya.

Gangguan di Selat Hormuz jelas telah membalikkan keadaan. Ladang-ladang minyak di selatan Irak yang biasanya sibuk, kini menghadapi ketidakpastian yang dalam, dengan konsekuensi ekonomi yang masih harus ditanggung.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar