Tidak banyak pemain asing di kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang mampu meninggalkan jejak mendalam hanya dalam kurun waktu dua musim. Mariano Peralta adalah salah satu dari segelintir nama itu.
Ketika Borneo FC resmi mengunggah salam perpisahan untuk sang winger pada Selasa, 10 Juni 2026, publik sepak bola tanah air seakan tidak hanya menyaksikan berakhirnya sebuah kerja sama profesional. Mereka juga menjadi saksi penutupan satu babak penting dalam perjalanan seorang pemain yang dalam dua tahun terakhir menjelma menjadi salah satu ikon kompetisi.
“Thank you PERALTA! Dua Musim yang Berkesan dengan Berbagai Torehan Apik Sudah Kau Ciptakan dan Setiap Perjumpaan Pada Akhirnya Akan Ada Perpisahan. Terima Kasih Atas Dedikasi yang Sudah Diberikan Untuk Klub Kebanggaan Samarinda dan Kaltim. MANYALA!” demikian bunyi pernyataan resmi klub berjuluk Pesut Etam tersebut.
Kalimat sederhana itu menjadi penanda bahwa petualangan Peralta bersama tim asal Kalimantan Timur telah usai. Tak butuh waktu lama bagi pemain asal Argentina itu untuk merespons. Melalui kolom komentar, ia membalas dengan kalimat yang mencerminkan kedekatan emosional yang telah terjalin selama dua musim terakhir.
“2 tahun yang luar biasa, terima kasih untuk segalanya. Selalu di dalam hatiku,” tulis Peralta.
Perpisahan itu memang terasa emosional. Namun di sisi lain, kabar tersebut justru menghadirkan gelombang antusiasme di Jakarta. Ribuan pendukung Persija Jakarta, The Jakmania, menyambutnya dengan optimisme yang sulit disembunyikan. Sebab, sejak beberapa pekan terakhir, nama Mariano Peralta memang santer dikaitkan dengan Macan Kemayoran. Rumor yang semula hanya beredar di kalangan pengamat dan media perlahan berubah menjadi kenyataan.
Saat Persija memperkenalkan Shin Tae-yong sebagai pelatih kepala baru pada Senin, 8 Juni, sinyal tersebut semakin menguat. Dalam konferensi pers tersebut, Jeje yang bertindak sebagai penerjemah pelatih asal Korea Selatan itu secara terbuka mengonfirmasi bahwa Peralta telah menjadi bagian dari rencana besar Persija untuk musim depan.
“Untuk Peralta sudah dikontrak, dan ia senang menyambut sang pemain,” ujar Jeje.
Pernyataan itu menjadi penting bukan hanya karena mengonfirmasi kedatangan Peralta, tetapi juga menunjukkan bahwa sang pemain merupakan salah satu sosok yang secara khusus mendapat restu dari Shin Tae-yong. Bagi pelatih yang pernah membangun fondasi kebangkitan Tim Nasional Indonesia tersebut, memilih pemain tidak semata-mata melihat statistik. Shin dikenal sebagai pelatih yang sangat memperhatikan karakter, disiplin, intensitas permainan, dan kemampuan menjalankan instruksi taktik. Peralta tampaknya memenuhi semua kriteria tersebut.
Musim lalu menjadi bukti paling nyata. Bersama Borneo FC, pemain berusia 27 tahun itu tampil luar biasa sepanjang kompetisi. Ia bukan sekadar pemain sayap yang mengandalkan kecepatan dan kemampuan menggiring bola. Peralta berkembang menjadi motor serangan yang mampu menentukan hasil pertandingan. Catatan 20 gol dan 14 assist menjadi gambaran betapa besarnya pengaruh sang pemain terhadap performa tim. Kontribusi tersebut membantu Borneo FC mengakhiri musim sebagai runner-up sekaligus mengamankan tiket menuju kompetisi Asia musim depan. Lebih dari itu, Peralta juga sukses meraih penghargaan Most Valuable Player (MVP) Super League 2025/2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan bahwa dirinya bukan hanya pemain terbaik Borneo FC, tetapi juga salah satu pemain paling berpengaruh di seluruh kompetisi.
Kini, tantangan baru menantinya di Jakarta. Persija bukan klub yang kekurangan sejarah. Sebagai salah satu tim terbesar di Indonesia, ekspektasi yang mengiringi setiap musim selalu sangat tinggi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Macan Kemayoran belum mampu kembali mengangkat trofi liga yang sangat dirindukan para pendukungnya. Kehadiran Shin Tae-yong menjadi tanda bahwa manajemen ingin memulai era baru. Pelatih berpengalaman itu datang dengan reputasi besar dan ekspektasi yang tidak kalah besar.
Untuk mewujudkan target tersebut, Persija membutuhkan pemain yang bisa langsung memberikan dampak instan di lapangan. Sosok yang mampu mengubah jalannya pertandingan, menciptakan peluang dari situasi sulit, sekaligus menjadi pembeda ketika tim membutuhkan kemenangan. Peralta hadir dengan seluruh atribut itu. Kemampuannya bermain di berbagai posisi lini depan memberikan fleksibilitas bagi Shin Tae-yong dalam merancang strategi. Ia bisa beroperasi sebagai winger kiri, winger kanan, hingga second striker. Mobilitas tinggi dan kemampuan membaca ruang membuatnya menjadi ancaman konstan bagi pertahanan lawan.
Yang membuat transfer ini semakin menarik adalah momentum kedatangannya. Persija tidak hanya mendapatkan pemain yang sedang berada di puncak performa, tetapi juga sosok yang datang dengan mentalitas pemenang. Dua musim terakhir telah membentuk Peralta menjadi pemain yang terbiasa berada di bawah tekanan dan tuntutan hasil. Bagi The Jakmania, kehadiran Peralta menghadirkan harapan baru bahwa musim depan bisa menjadi titik balik kebangkitan klub ibu kota.
Sementara bagi Shin Tae-yong, Peralta tampaknya menjadi salah satu kepingan pertama dari puzzle besar yang sedang ia susun. Sebuah proyek ambisius untuk membawa Persija kembali menjadi kekuatan dominan sepak bola Indonesia. Perjalanan tentu masih panjang. Bursa transfer belum sepenuhnya berakhir dan Persija kemungkinan masih akan mendatangkan sejumlah pemain lain untuk melengkapi skuad. Namun satu hal yang sudah pasti, kedatangan Mariano Peralta telah mengirimkan pesan kuat kepada para rival. Persija tidak sedang membangun tim untuk sekadar bersaing. Mereka sedang membangun tim untuk menjadi juara.
Jika performa luar biasa yang ditunjukkan Peralta bersama Borneo FC mampu ia ulangi di Jakarta, maka bukan tidak mungkin pemain terbaik Super League musim lalu itu akan menjadi wajah utama dari kebangkitan Persija Jakarta di bawah komando Shin Tae-yong.
Artikel Terkait
Persib Bandung Buru Allano dan Victor Luiz, Siapkan Poros Brasil demi Pertahankan Gelar
Darije Kalezic Resmi Kembali Latih PSM Makassar untuk Musim 2026/2027
Fiorentina Incar Emil Audero sebagai Alternatif jika De Gea Hengkang
Persebaya Lepas Sembilan Pemain Sekaligus, Tandai Era Baru di Bawah Pelatih Bernardo Tavares