Menjelang bulan Ramadhan, harga-harga kebutuhan pokok memang kerap jadi sorotan. Tapi tahun ini, menurut analisis Indef (Institute for Development of Economics and Finance), situasinya terlihat lebih tenang. Volatilitas atau gejolak harga yang terjadi tahun lalu tampak mulai moderasi. Meski ada kenaikan di beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng kenaikan itu masih dalam tren yang bisa diantisipasi. Kuncinya, kata mereka, ada pada pengelolaan pasokan yang baik.
Peneliti dari Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afaqa Hudaya, memaparkan hal ini dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Senin lalu.
"Meningkatnya permintaan selama Ramadhan itu fenomena musiman yang wajar," ujar Afaqa.
"Ini bagian dari siklus ekonomi tahunan kita."
Dia juga melihat ada angin segar dari pasar global. Menurutnya, stabilisasi harga pangan dunia menjadi faktor positif yang bisa mendukung suasana jelang Idul Fitri nanti.
"Memang harga pangan global belum sepenuhnya pulih," katanya.
"Tapi tekanan yang sebelumnya begitu tinggi mulai mereda. Ini seiring dengan membaiknya kondisi pasokan di berbagai negara."
Afaqa menekankan bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase stabilisasi harga pangan. Fase ini cukup penting, mengingat risiko ketahanan pangan yang masih persisten di mana-mana. Lantas, apa penyebab meredanya tekanan ini? Afaqa menjelaskan, produksi pertanian di sejumlah negara mulai membaik. Cuaca yang lebih bersahabat turut berperan, mendongkrak output pertanian global.
Laporan Bank Dunia dalam Global Economic Prospects 2026 pun mencatat hal serupa. Perbaikan produksi pertanian disebut memperkuat ketersediaan pasokan pangan dunia. Jadi, pelemahan harga yang kita lihat sekarang ini lebih banyak dipengaruhi faktor produksi dan stok yang relatif memadai.
"Meredanya tekanan harga berlangsung dalam konteks pasokan global yang relatif memadai," jelas Afaqa.
Lalu Bagaimana dengan Energi?
Selain pangan, Afaqa turut menyoroti pasar energi global. Situasinya sedikit berbeda, masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Konflik berpotensi memicu volatilitas harga minyak," ujarnya.
"Tapi kondisi ini justru mengingatkan kita akan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional. Caranya ya melalui diversifikasi sumber energi."
Faktanya, neraca perdagangan migas Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir masih defisit. Data akhir 2025 mencatat defisit migas mencapai 2,09 miliar dolar AS. Angka itu menunjukkan konsumsi energi dalam negeri masih jauh lebih tinggi ketimbang kemampuan produksi kita sendiri.
Namun begitu, situasi ini bukannya tanpa hikmah. Justru mendorong urgensi untuk serius mengembangkan energi alternatif dan meningkatkan efisiensi di tingkat nasional.
"Program bauran energi seperti biodiesel yang sudah berjalan itu langkah penting," papar Afaqa.
"Ini bisa mengurangi ketergantungan kita pada impor bahan bakar."
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Bersaksi di Sidang Korupsi Chromebook, Guru dan Saksi Ahli Bela Efektivitas Perangkat
Rem Truk Blong, Pengendara Motor Tewas di Jalan Padalarang–Cianjur
Pemprov Sulsel Biayai BPJS Ketenagakerjaan untuk 10.000 Nelayan dan Pekerja Informal demi Perluas Perlindungan Sosial
Ketua DPRD Magetan Ditahan Kejari, Tersangka Korupsi Dana Hibah Pokir Capai Rp242 Miliar