Indef: Harga Pangan Jelang Ramadhan Lebih Stabil, Pasar Energi Masih Bergejolak

- Selasa, 10 Maret 2026 | 06:00 WIB
Indef: Harga Pangan Jelang Ramadhan Lebih Stabil, Pasar Energi Masih Bergejolak

Menjelang bulan Ramadhan, harga-harga kebutuhan pokok memang kerap jadi sorotan. Tapi tahun ini, menurut analisis Indef (Institute for Development of Economics and Finance), situasinya terlihat lebih tenang. Volatilitas atau gejolak harga yang terjadi tahun lalu tampak mulai moderasi. Meski ada kenaikan di beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng kenaikan itu masih dalam tren yang bisa diantisipasi. Kuncinya, kata mereka, ada pada pengelolaan pasokan yang baik.

Peneliti dari Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afaqa Hudaya, memaparkan hal ini dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Senin lalu.

"Meningkatnya permintaan selama Ramadhan itu fenomena musiman yang wajar," ujar Afaqa.

"Ini bagian dari siklus ekonomi tahunan kita."

Dia juga melihat ada angin segar dari pasar global. Menurutnya, stabilisasi harga pangan dunia menjadi faktor positif yang bisa mendukung suasana jelang Idul Fitri nanti.

"Memang harga pangan global belum sepenuhnya pulih," katanya.

"Tapi tekanan yang sebelumnya begitu tinggi mulai mereda. Ini seiring dengan membaiknya kondisi pasokan di berbagai negara."

Afaqa menekankan bahwa dunia saat ini sedang memasuki fase stabilisasi harga pangan. Fase ini cukup penting, mengingat risiko ketahanan pangan yang masih persisten di mana-mana. Lantas, apa penyebab meredanya tekanan ini? Afaqa menjelaskan, produksi pertanian di sejumlah negara mulai membaik. Cuaca yang lebih bersahabat turut berperan, mendongkrak output pertanian global.

Laporan Bank Dunia dalam Global Economic Prospects 2026 pun mencatat hal serupa. Perbaikan produksi pertanian disebut memperkuat ketersediaan pasokan pangan dunia. Jadi, pelemahan harga yang kita lihat sekarang ini lebih banyak dipengaruhi faktor produksi dan stok yang relatif memadai.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar