Toraja Utara memang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya yang memikat. Tapi, jangan lupakan soal kuliner. Di antara berbagai hidangan tradisionalnya, ada satu yang cukup unik: pokon.
Makanan ini intinya terbuat dari beras ketan putih. Dicampur dengan santan dan sedikit garam, lalu dibungkus. Beberapa orang menambahkan parutan kelapa ke dalam adonannya, biar rasanya makin gurih dan legit. Bentuknya mirip lontong, cuma pembungkusnya yang berbeda menggunakan daun bambu muda yang diikat kuat dengan tali rafia. Menurut sejumlah warga, pokon paling enak disantap pagi hari, ditemani segelas teh hangat atau kopi pahit. Kombinasi yang sederhana, tapi pas.
Lebih Dari Sekadar Makanan: Makna Ma’Pokon
Pokon bukan cuma camilan biasa. Dalam kehidupan masyarakat Toraja, khususnya di kalangan bangsawan, makanan ini punya peran penting dalam upacara kedukaan Rambu’ Solo. Tradisi membuatnya disebut ma’pokon.
Kata “ma’pokon” sendiri artinya membuat pokon. Biasanya, ibu-ibu yang mengerjakannya secara bergotong royong. Mereka mulai sejak pagi buta. Suasana dapur jadi ramai oleh canda dan obrolan ringan.
Beras ketannya mesti dicuci dan direndam dulu. Baru kemudian dicampur santan dan garam. Proses membungkusnya butuh ketelitian ekstra. Daun bambu harus dilipat dengan pas agar beras tidak tumpah, dan tidak sobek saat diikat. Kalau salah, bisa berantakan saat direbus.
Pria dan Api Kayu Bakar
Sementara para ibu sibuk membungkus, kaum pria mengambil peran lain. Mereka menyiapkan tungku besi dan mengumpulkan kayu bakar. Pokon dimasak dalam kuali aluminium besar.
Sebelum pokon dimasukkan, dasar kuali dialasi daun pandan. Fungsinya agar aroma lebih wangi dan rasa pokon lebih enak. Beras ketan yang sudah terbungkus rapi lalu ditata berjejer di dalamnya. Ditutup lagi dengan daun pandan, lalu dituangi air sampai semuanya terendam.
Proses perebusannya lama, bisa 3 sampai 5 jam. Api dari kayu bakar harus dijaga agar tetap stabil, tidak terlalu besar juga tidak kecil. Butuh kesabaran.
Yang menarik, pokon yang sudah matang tidak langsung dimakan hari itu juga. Makanan ini justru disajikan keesokan harinya, saat berlangsung prosesi ma’tammu tedong atau ma’pasa’ tedong acara pengumpulan kerbau yang akan dipotong untuk upacara. Jadi, pokon adalah bagian dari rangkaian ritual yang penuh makna, sekaligus pengikat kebersamaan.
Artikel Terkait
Jokowi Pastikan Hadir di Sidang Roy Suryo dan Akan Perlihatkan Ijazah Asli
Gubernur Aceh: Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Baru 30 Persen, Jembatan dan Sekolah Masih Banyak Rusak
Pemkot Makassar Tetapkan Lapangan Karebosi sebagai Lokasi Salat Iduladha 2026
Bentrokan Mahasiswa dan Aparat Warnai Aksi Desak Pengusutan Narkoba di Lapas Bollangi