Pokon, Hidangan Khas Toraja yang Sarat Makna dalam Ritual Rambu Solo

- Kamis, 26 Maret 2026 | 15:00 WIB
Pokon, Hidangan Khas Toraja yang Sarat Makna dalam Ritual Rambu Solo

Toraja Utara memang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya yang memikat. Tapi, jangan lupakan soal kuliner. Di antara berbagai hidangan tradisionalnya, ada satu yang cukup unik: pokon.

Makanan ini intinya terbuat dari beras ketan putih. Dicampur dengan santan dan sedikit garam, lalu dibungkus. Beberapa orang menambahkan parutan kelapa ke dalam adonannya, biar rasanya makin gurih dan legit. Bentuknya mirip lontong, cuma pembungkusnya yang berbeda menggunakan daun bambu muda yang diikat kuat dengan tali rafia. Menurut sejumlah warga, pokon paling enak disantap pagi hari, ditemani segelas teh hangat atau kopi pahit. Kombinasi yang sederhana, tapi pas.

Lebih Dari Sekadar Makanan: Makna Ma’Pokon

Pokon bukan cuma camilan biasa. Dalam kehidupan masyarakat Toraja, khususnya di kalangan bangsawan, makanan ini punya peran penting dalam upacara kedukaan Rambu’ Solo. Tradisi membuatnya disebut ma’pokon.

Kata “ma’pokon” sendiri artinya membuat pokon. Biasanya, ibu-ibu yang mengerjakannya secara bergotong royong. Mereka mulai sejak pagi buta. Suasana dapur jadi ramai oleh canda dan obrolan ringan.

Beras ketannya mesti dicuci dan direndam dulu. Baru kemudian dicampur santan dan garam. Proses membungkusnya butuh ketelitian ekstra. Daun bambu harus dilipat dengan pas agar beras tidak tumpah, dan tidak sobek saat diikat. Kalau salah, bisa berantakan saat direbus.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar