Namun begitu, penunjukan ini bukannya tanpa debat. Banyak yang mempertanyakan, termasuk soal gelar keagamaannya. Mojtaba saat ini hanya menyandang gelar Hojatoleslam, tingkat menengah dalam hierarki ulama Syiah, bukan Ayatollah yang lebih tinggi.
Tapi ini bukan preseden pertama. Dulu, Ali Khamenei juga diangkat sebagai pemimpin pada 1989 sebelum menyandang gelar Ayatollah. Undang-undang waktu itu diubah untuk mengakomodasi. Bisa jadi kompromi serupa akan terjadi lagi.
Di sisi lain, pengangkatan Mojtaba dilihat banyak pengamat sebagai tanda kuatnya cengkeraman kelompok garis keras. Vali Nasr, pakar dari Johns Hopkins, menyebutnya sinyal dominasi sayap Garda Revolusi.
“Itu menunjukkan bahwa rezim yang sekarang berkuasa adalah sayap Garda Revolusi yang jauh lebih garis keras,” katanya.
Masa Depan yang Mungkin Berbeda
Khamenei memimpin Iran selama 37 tahun dengan tangan besi, membangun jaringan loyalis yang solid di semua lini. Tapi era baru mungkin membawa pola berbeda.
Mehdi Khalaji, penulis biografi Khamenei, punya prediksi menarik. Ia meragukan kekuasaan akan tetap terpusat pada satu orang seperti dulu.
“Kita hampir pasti dapat mengatakan bahwa kepemimpinan berikutnya tidak akan terkonsentrasi pada satu orang saja,” ujarnya.
Bisa jadi, posisi pemimpin tertinggi nanti akan lebih bersifat seremonial. Lebih simbolis. Tentu ini masih prediksi. Kenyataannya, dalam sistem Republik Islam, pemimpin tertinggi tetaplah figur paling berkuasa panglima tertinggi yang punya kata akhir dalam politik, keamanan, hingga militer, termasuk mengendalikan IRGC.
Jadi, meski dipilih dengan cepat dan penuh kontroversi, jalan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran baru saja dimulai. Dunia menunggu, dengan waspada.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Hujan Guyur Sulawesi Selatan Sepanjang Hari, Waspada Potensi Angin Kencang
Mendagri Instruksikan Kepala Daerah Siaga Penuh Dua Pekan Saat Lebaran
Dua Pemuda Mabuk Jadi Tersangka Pengeroyolan Kapolsek Kaliwungu
Bupati Bone Gerak Cepat Atasi Kelangkaan Beras Jelang Lebaran