“Jangankan 5 tahun. Sejak lahir, saya sudah hidup di tengah moncong senjata,” ujarnya dengan nada tegas.
Pigai lalu bercerita tentang masa kecilnya di Enarotali, Paniai. Wilayah itu, katanya, adalah laboratorium HAM baginya. Tempat ia menyaksikan langsung ketidakadilan dan penderitaan. Pengalaman empiris itulah yang membentuk kesadarannya tentang nilai-nilai kemanusiaan jauh melampaui pemahaman normatif yang tertulis di buku undang-undang.
Pada intinya, perdebatan ini mempertentangkan dua cara pandang. Pertama, pendekatan normatif-akademik yang bersandar pada hukum dan kajian ilmiah. Kedua, pendekatan empiris-sosiologis yang lahir dari pengalaman hidup di lapangan.
Pigai jelas berada di kubu kedua. Baginya, teori itu penting, tapi tak cukup tanpa empati dan pengalaman nyata menghadapi pelanggaran HAM.
Sementara itu, ajakan debat dari Uceng seolah ingin menguji klaim pengalaman itu di ruang akademik yang terbuka.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan dan di mana debat itu akan digelar. Namun, wacana pertemuan dua perspektif yang berbeda ini terus jadi bahan obrolan seru, baik di ruang publik maupun di linimasa media sosial.
Artikel Terkait
Buka Puasa di Banjarmasin Hari Ini Pukul 18.43 WIB
KPK Tahan Pejabat Bea Cukai Terkait Kasus Suap dan Rp 5,19 Miliar di Apartemen
Es Teler Durian Jadi Primadona Buka Puasa di Makassar
Keong Rebus Jadi Primadona Buka Puasa di Banyumas, Penjualan Melonjak Drastis