PT Darma Henwa Tbk (DEWA), salah satu emiten di bawah bendera Grup Bakrie, akhirnya membuka kemungkinan untuk membagikan dividen. Ini kabar yang cukup mengejutkan, lho. Soalnya, sejak perusahaan ini tercatat di bursa, belum sekalipun mereka memberikan dividen kepada para pemegang sahamnya.
Direktur DEWA, Ricardo Silaen, mengungkapkan bahwa rencana ini muncul berkat kinerja keuangan perusahaan yang benar-benar melesat di tahun 2025. Bagaimana tidak, laba bersih mereka melonjak fantastis ke angka Rp 4,3 triliun. Kalau dilihat persentasenya, kenaikannya mencapai 7.697% dari laba tahun 2024 yang cuma Rp 55,2 miliar. Sungguh sebuah lompatan yang luar biasa.
Menurut Ricardo, perbaikan operasional jadi penyokong utama. Capaian operasional mereka naik lebih dari dua kali lipat, yang otomatis mendongkrak laba sebelum pajak. "Tentu saja ketika kita bicara dividen ini sesuatu yang sangat baru bagi Darma Henwa," ujarnya.
Ricardo menambahkan, "Tapi adalah komitmen kita ingin menunjukkan bahwa (hasil) perbaikan kinerja ingin kami kembalikan ke shareholders juga." Pernyataan itu disampaikannya dalam siaran YouTube Samuel Sekuritas, Jumat (10/4) lalu.
Namun begitu, soal berapa besar porsi yang akan dibagikan, itu masih harus ditimbang-timbang. Manajemen harus mempertimbangkan kebutuhan kas perusahaan, termasuk untuk belanja modal dan modal kerja. Keputusan akhirnya, tentu saja, menunggu persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Soal Saham Buyback yang Sudah Rampung
Ricardo juga menyentuh soal program buyback saham yang sudah mereka selesaikan pada Februari 2026 lalu. Saham-saham yang dibeli kembali itu kini berstatus sebagai saham treasuri.
Perusahaan punya waktu sekitar tiga tahun untuk menyimpan saham treasuri tersebut, sesuai aturan yang berlaku. Aksi ini sendiri diniatkan sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah gejolak pasar yang kerap tak menentu.
"Menarik juga sebenarnya ketika melihat kalau dari historisnya 52 minggu ke belakang harganya dari sekitar Rp 83 sudah di Rp 500,” tutur Ricardo.
Sepanjang program berjalan, DEWA membeli kembali sekitar 1,63 miliar saham. Dana yang dihabiskan nyaris menyentuh Rp 950 miliar. Hasilnya, perusahaan kini menguasai sekitar 4,03% saham treasuri dari total modal. Harapannya, langkah ini bisa bikin investor makin percaya dengan fundamental dan prospek DEWA ke depannya.
Membidik Status sebagai Holding Investasi
Ke depan, Ricardo bilang DEWA punya strategi jangka panjang yang ambisius: bertransformasi jadi perusahaan holding investasi. Saat ini, bisnis mereka bertumpu pada dua pilar: jasa kontraktor pertambangan dan pengembangan aset tambang mineral lewat anak usahanya, PT Gayo Mineral Resources.
Tak cuma berhenti di situ, perusahaan berencana melebarkan sayap ke sektor mineral lain di luar batu bara, seperti nikel dan bauksit. Langkah ini dinilai cocok dengan potensi Indonesia sebagai produsen mineral besar dunia.
Di tengah industri yang penuh tantangan, kinerja DEWA justru menunjukkan tren positif yang kontras dengan beberapa kompetitor yang tampak stagnan. Melalui diversifikasi ini, mereka optimis bisa menangkap peluang-peluang baru.
“Kami percaya bahwa ini memberikan kesempatan bagi kami untuk grab opportunities,” kata Ricardo.
Catatan Kinclong Sepanjang 2025
Benar-benar tahun yang gemilang bagi DEWA. Sepanjang 2025, laba bersih mereka mencapai Rp 4,3 triliun, melonjak 7.697% dibanding tahun sebelumnya. Pendapatannya sendiri naik 5,98% menjadi Rp 6,39 triliun.
Menurut analis, kinerja ini bahkan jauh melampaui ekspektasi pasar. Everson Sugianto dari Stockbit Sekuritas menyebut, laba bersih DEWA setara dengan 1.324% dari estimasi konsensus.
Lonjakan fantastis ini sebagian besar ditopang oleh pengakuan negative goodwill senilai Rp 4,5 triliun dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources. Nilai ini cukup untuk menutupi sejumlah kerugian dari penghapusan piutang dan aset lainnya yang totalnya sekitar Rp 724 miliar.
Meski kontribusi dari GMR bersifat one off, prospek DEWA tetap dilihat positif. “Core profit meningkat signifikan menjadi Rp 573 miliar selama 2025 didukung ekspansi margin laba kotor,” jelas Everson dalam analisisnya.
Akuisisi 99,75% saham GMR sendiri sudah rampung pada November 2025. Transaksi ini menggunakan uang muka investasi yang sebelumnya sudah dicatat, sehingga tidak membebani arus kas di tahun 2025.
Artikel Terkait
Warga Bekasi Manfaatkan Libur Idul Adha untuk Piknik Keluarga di Monas dengan Bekal Olahan Daging Kurban
Hary Tanoe dan Angela Pimpin Langsung Pembagian Kurban Perindo di Paseban
Pertamina Salurkan 4.400 Hewan Kurban ke Masyarakat Sekitar Wilayah Operasi
Pemerintah Bangladesh Selamatkan Kerbau Albino ‘Donald Trump’ dari Penyembelihan Idul Adha