Pendiri Binance, Changpeng Zhao, tentu menjadi sorotan. Dia mendirikan perusahaan ini pada 2017 dan membawanya menguasai dua pertiga volume perdagangan kripto global di masa jayanya. Nasibnya berliku: sempat menjalani hukuman penjara federal empat bulan pada 2024, sebelum kemudian memperoleh pengampunan dari Presiden Donald Trump. Kekayaannya, menurut estimasi Forbes, masih mendekati 80 miliar dolar AS, menjadikannya salah satu figur paling berpengaruh dan kontroversial di industri ini.
Menanggapi semua temuan ini, juru bicara Binance, Rachel Conlan, memberikan pernyataan tegas.
"Kami telah menindaklanjuti temuan internal tersebut, menutup akun terkait, dan melaporkan kasusnya kepada otoritas yang berwenang seperti Departemen Kehakiman AS, IRS, dan FBI," ujarnya.
Dia menegaskan bahwa tidak ada bukti Binance secara sadar mengizinkan aktivitas terlarang itu berlangsung tanpa kendali. Semua tuduhan sebaliknya, kata Conlan, tidak akurat dan mencemarkan nama baik perusahaan.
Namun begitu, realitas di lapangan bicara lain. Dalam beberapa bulan terakhir, lebih dari enam pejabat kepatuhan Binance memilih hengkang. Di antaranya adalah kepala tim sanksi dan pejabat senior kepatuhan organisasi. Gelombang pengunduran diri ini memperkuat persepsi bahwa krisis yang dihadapi Binance bukan sekadar persoalan teknis belaka.
Ini adalah ujian struktural terhadap tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas di jantung industri kripto global. Sebuah industri yang kini bernilai triliunan dolar dan semakin sering menjadi sorotan tajam regulator di seluruh dunia.
Artikel Terkait
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana