Masjid Al-Markaz Makassar Gelar Ngaji Literasi Sambut Ramadhan

- Minggu, 15 Februari 2026 | 10:00 WIB
Masjid Al-Markaz Makassar Gelar Ngaji Literasi Sambut Ramadhan

"Dan itu bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca realitas, membaca perubahan zaman, serta membaca diri kita sendiri agar tidak tertinggal," jelas Hasan Pinang lagi.

Menurutnya, momentum Ramadhan harus dimaknai sebagai kebangkitan ganda: spiritual sekaligus intelektual. Di sinilah masjid harus berperan sentral menjadi pusat diskusi dan produksi gagasan.

Nah, peran Masjid Al-Markaz sendiri memang sudah tak diragukan. Sebagai ikon di Sulawesi Selatan, tempat ini lama menjadi simpul dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan tentu saja, literasi. Perpustakaannya aktif, forum diskusinya hidup. Jadi, sebenarnya kegiatan macam ini bukanlah hal baru. Ini lebih seperti revitalisasi, mengembalikan fungsi klasik masjid sebagai pusat peradaban ilmu, persis seperti yang dicontohkan Rasulullah di Masjid Nabawi dulu.

Acara puncaknya sendiri cukup menarik. Hadir Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis buku best seller, yang berbagi cerita tentang proses kreatifnya. Ia bicara soal disiplin menulis dan bagaimana tetap konsisten membaca di tengah gempuran distraksi digital. Peserta pun antusias, mengajukan berbagai pertanyaan kritis dalam sesi bedah buku yang interaktif. Mereka mencari panduan praktis untuk membangun kebiasaan membaca yang bertahan lama.

Panitia berharap ini bukan sekadar acara seremonial. Mereka ingin "Ngaji Literasi" menjadi gerakan yang berdenyut terus, menghubungkan pesantren, sekolah, komunitas, dan keluarga di Makassar. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, acara di Al-Markaz ini menjadi simbol yang bagus. Sebuah tanda bahwa kebangkitan peradaban bisa dimulai dari saf-saf masjid dari ruang yang dihidupi oleh ilmu, diskusi, dan tradisi membaca yang menyala, terutama saat menyambut Ramadhan.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar