Geliat literasi dari masjid kembali terasa di Makassar. Sabtu lalu, tepatnya 14 Februari 2026, Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf ramai dikunjungi pelajar, santri, hingga masyarakat umum. Mereka berkumpul untuk acara bertajuk "Ngaji Literasi Sambut Ramadhan 1447 H" yang digagas oleh Forum Komunikasi Pondok Pesantren se-Kota Makassar. Acaranya gratis, dan atmosfernya benar-benar berbeda penuh semangat keilmuan.
Ini bukan kerja satu pihak saja. Kolaborasi yang solid melibatkan Perpustakaan Masjid Al-Markaz, FKPP, Kementerian Agama Kota Makassar, dan Gramedia. Hasilnya? Tercipta sebuah ruang di mana dunia pesantren, pendidikan formal, industri buku, dan otoritas agama bisa duduk bersama. Semua bersatu untuk satu tujuan: menghidupkan kembali gerakan literasi yang sarat nilai.
Sebelum acara puncak, sudah ada serangkaian lomba yang digelar. Mulai dari debat bahasa Arab, penulisan cerpen, sampai kompetisi literasi kreatif lainnya. Tujuannya jelas: mengasah nalar kritis dan keterampilan menulis anak muda. Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan itu jelas jadi bekal penting.
Dalam keterangannya, H. Hasan Pinang, S.Ag., M.Fil.I., Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Kota Makassar, menekankan bahwa ini adalah strategi kultural.
"Masjid tidak boleh hanya dipahami sebagai ruang ritual semata, tetapi sebagai ruang intelektual yang melahirkan generasi pembaca, penulis, dan pemikir," ujarnya.
Baginya, literasi adalah fondasi utama membangun umat yang berdaya saing. Ia mengingatkan, perintah pertama dalam Islam adalah 'iqra', membaca.
"Dan itu bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca realitas, membaca perubahan zaman, serta membaca diri kita sendiri agar tidak tertinggal," jelas Hasan Pinang lagi.
Menurutnya, momentum Ramadhan harus dimaknai sebagai kebangkitan ganda: spiritual sekaligus intelektual. Di sinilah masjid harus berperan sentral menjadi pusat diskusi dan produksi gagasan.
Nah, peran Masjid Al-Markaz sendiri memang sudah tak diragukan. Sebagai ikon di Sulawesi Selatan, tempat ini lama menjadi simpul dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan tentu saja, literasi. Perpustakaannya aktif, forum diskusinya hidup. Jadi, sebenarnya kegiatan macam ini bukanlah hal baru. Ini lebih seperti revitalisasi, mengembalikan fungsi klasik masjid sebagai pusat peradaban ilmu, persis seperti yang dicontohkan Rasulullah di Masjid Nabawi dulu.
Acara puncaknya sendiri cukup menarik. Hadir Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis buku best seller, yang berbagi cerita tentang proses kreatifnya. Ia bicara soal disiplin menulis dan bagaimana tetap konsisten membaca di tengah gempuran distraksi digital. Peserta pun antusias, mengajukan berbagai pertanyaan kritis dalam sesi bedah buku yang interaktif. Mereka mencari panduan praktis untuk membangun kebiasaan membaca yang bertahan lama.
Panitia berharap ini bukan sekadar acara seremonial. Mereka ingin "Ngaji Literasi" menjadi gerakan yang berdenyut terus, menghubungkan pesantren, sekolah, komunitas, dan keluarga di Makassar. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, acara di Al-Markaz ini menjadi simbol yang bagus. Sebuah tanda bahwa kebangkitan peradaban bisa dimulai dari saf-saf masjid dari ruang yang dihidupi oleh ilmu, diskusi, dan tradisi membaca yang menyala, terutama saat menyambut Ramadhan.
Artikel Terkait
Operasi SAR Dihentikan, Nelayan Hilang di Perairan Makassar Tak Ditemukan
Inter Milan Kalahkan Juventus 3-2 dalam Laga Sengit Penuh Drama di San Siro
Harga Emas Antam Stagnan di Akhir Pekan, 1 Gram Tetap Rp2,95 Juta
HIPMI Run Strong 8 di Makassar Gaungkan Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen