Strategi Sun Tzu di Balik Rekor Tak Terkalahkan Jokowi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 19:50 WIB
Strategi Sun Tzu di Balik Rekor Tak Terkalahkan Jokowi

Memang, ada banyak dugaan yang menyeruak. Kecurangan, peran aparat, bansos, dan perubahan syarat pencapresan di MK. Tapi faktanya, pasangan itu menang. Bahkan menang telak. Di mata publik, kemenangan itu membuat berbagai dugaan tadi seolah kehilangan pijakan.

Jokowi bukan tipe orang gegabah. Ia tak akan seperti Ahmad Ali yang sejak awal sudah berkoar-koar soal Gibran melawan Prabowo. Meski peluangnya ada, Jokowi lebih suka menghitung matang-matang. Sampai detik terakhir. Makanya ia cuma bilang, Prabowo-Gibran dua periode. Titik.

Di sisi lain, politik memang penuh kejutan. Ada juga yang bertarung modal pas-pasan tapi akhirnya menang. Ambil contoh Pramono Anung melawan Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta. Elektabilitasnya awalnya cuma nol koma, sementara RK sudah mendekati 50 persen. Tapi yang menang justru Pramono.

Atau yang lebih dulu, Anies Baswedan melawan Ahok di 2012. Artinya, medan pertarungan itu sendiri punya dinamikanya sendiri. Kasus Pramono bukan yang pertama. Anies sudah merasakannya. Bahkan Jokowi sendiri dulu, saat melawan Fauzi Bowo, juga dianggap bukan favorit.

Namun begitu, politik kontestasi tentu beda dengan perang sungguhan. Perang asli cuma punya dua akhir: menang atau kalah; hidup atau mati. Dalam politik, orang bisa ikut pemilihan tanpa niat menang sekalipun.

Ikut bertarung meski tahu akan kalah, itu sendiri sudah sebuah kemenangan. Makna kemenangan di sini jadi lebih luas. Apalagi di pemilu serentak 2029 nanti, yang syaratnya lebih longgar.

Bisa saja seorang kandidat kalah di Pilpres, tapi partainya menambah kursi di DPR. Suaranya membesar. Jadi, strategi ala Sun Tzu yang dianggap diterapkan Jokowi itu, belum tentu ampuh untuk situasi 2029 nanti. Medannya sudah berubah. Permainannya pun lain.


Halaman:

Komentar