Ledakan media online itu ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia mendemokratisasi akses pengetahuan. Siapa pun bisa baca, tulis, dan berdebat. Ilmuwan bisa langsung terlibat dalam percakapan publik.
Di sisi lain, banjir informasi ini menciptakan kebisingan yang mencekik. Kuantitas sering mengalahkan kualitas. Batas antara ahli dan komentator dadakan jadi kabur. Otoritas kini ditentukan oleh seberapa viral suatu suara, bukan kedalaman analisisnya. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran harus berteriak keras hanya untuk didengar.
Arus Deras yang Harus Dihadapi
Faktanya, arus informasi ini tak terbendung. Menyaringnya sepenuhnya hampir mustahil. Dalam situasi seperti ini, memilih untuk diam bukanlah sikap yang netral. Jika suara ilmiah absen, ruang itu akan segera diisi oleh spekulasi, simplifikasi, atau kabar bohong.
Karena itu, tantangan terbesar ilmuwan sekarang mungkin bukan memilih medium yang paling "suci", tapi bagaimana menjaga etika berpikir di tengah desakan kecepatan dan viralitas. Menulis populer bukan pengkhianatan, selama landasan ilmiahnya kokoh. Sebaliknya, bersembunyi di balik jargon akademik yang ruwet juga bukan jaminan integritas, jika tulisannya hanya jadi ritual administratif belaka.
Membangun Ekosistem, Bukan Menara
Jadi, alih-alih mempertentangkan jurnal, buku, dan media populer, lebih baik kita lihat ketiganya sebagai satu ekosistem yang saling melengkapi. Jurnal menjaga akurasi, buku merawat kedalaman, dan artikel populer menjembatani ilmu dengan kehidupan nyata.
Ilmuwan era sekarang dituntut jadi "multilingual". Harus fasih bahasa metodologi yang ketat, tapi juga luwes bercerita dalam bahasa publik. Tuntutan ini berat, tapi niscaya. Pengetahuan yang tak mampu berdialog dengan masyarakat, pada akhirnya bisa kehilangan nyawanya sendiri.
Pada Ujungnya, Ini Soal Tanggung Jawab
Uraian di atas membawa kita kembali ke kalimat pembuka: menulis adalah tindakan etis. Medium yang dipilih sungguh mencerminkan cara seorang ilmuwan memposisikan dirinya di tengah masyarakat. Di tengah hiruk-pikuk informasi yang tak karuan, kehadiran suara ilmiah yang jujur, hati-hati, dan mudah dicerna justru semakin krusial.
Tujuannya bukan untuk menang debat, tapi untuk memastikan percakapan publik kita tidak sepenuhnya lepas dari nalar dan bukti. Di situlah letak tanggung jawab intelektual hari ini: bukan cuma menghasilkan pengetahuan, tapi juga merawatnya agar tetap hidup dan relevan di tengah gemuruh zaman.
Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat.
Artikel Terkait
Babah Alun: Bergabung dengan Board of Peace Bawa Indonesia Lebih Diperhitungkan
Wapang TNI Desak Pembangunan Koperasi Merah Putih Dikebut
KPK Hadapi Kebuntuan, Biro Haji Ogah Buka Suara Soal Kuota Tambahan
Mendagri Tito Karnavian Langsung Sambangi Rumah Duka Istri Hoegeng