Dunia akademik sekarang? Jauh berbeda dengan sepuluh atau dua puluh tahun silam. Dulu, jalurnya terasa lebih lurus. Kalau mau ekspresi ilmiah, ya ke jurnal atau buku. Titik. Sekarang? Pilihannya melebar bak kipas. Dari jurnal bereputasi tinggi sampai yang abu-abu, buku-buku tebal berbahasa asing hingga terbitan lokal, lalu merambah ke artikel populer di koran, majalah, atau media online yang tumbuh pesat. Pilihan tempat menulis ini nggak lagi cuma soal selera pribadi. Ia lebih seperti cermin memantaskan bagaimana sebenarnya pengetahuan itu bergerak dan dipercakapkan di ruang publik yang riuh.
Lantas, pertanyaan krusialnya bergeser. Bukan cuma "Anda menulis di mana?", tapi "Apa dampak dari pilihan itu bagi ilmu dan masyarakat?"
Benteng Bernama Jurnal Ilmiah
Tak bisa dimungkiri, jurnal ilmiah masih punya tahta tersendiri. Ia adalah benteng legitimasi. Di sanalah gagasan digodok, diuji metodologinya, dikritik oleh sejawat, sebelum akhirnya diakui. Jurnal menjamin ketelitian dan kedisiplinan ilmiah. Bagi karier seorang dosen atau peneliti, publikasi di jurnal bereputasi adalah mata uang yang sangat berharga penentu kenaikan pangkat, dana penelitian, dan reputasi.
Namun begitu, kekuatan itu punya sisi lain. Bahasa yang sangat teknis dan proses review yang bisa makan waktu bertahun-tahun sering membuat jurnal terasing dari percakapan sosial yang berjalan cepat. Saat sebuah isu kebijakan memanas hari ini, jawaban ilmiahnya mungkin baru terbit tahun depan. Pada saat itu, perdebatan publik mungkin sudah berganti arah. Jurnal unggul dalam kedalaman, tapi kerap tertinggal dalam kecepatan.
Buku: Upaya Merangkum dalam Kesunyian
Kalau jurnal mengurusi kedalaman, buku menawarkan keluasan. Ia memberi ruang bagi ilmuwan untuk mengembangkan argumen secara utuh, merangkai temuan dengan konteks sejarah dan filsafat. Buku adalah monumen pemikiran, upaya merangkum zaman dalam satu nafas panjang.
Tapi zaman sekarang tidak ramah pada kesunyian. Proses penulisan dan penerbitan buku yang lama membuatnya rentan ketinggalan. Harganya yang mahal dan distribusinya yang terbatas juga membatasi pembacanya. Di tengah banjir informasi real-time, buku akademik yang serius kerap hanya sampai ke kalangan terbatas. Ia menjadi penting, tapi sayangnya, kurang terdengar gaungnya.
Godaan Cepat di Media Populer
Nah, di sinilah artikel populer bermain. Ia lincah, cepat, dan langsung menyapa publik. Bagi seorang profesor, menulis opini di koran berarti turun dari menara gading dan masuk ke ruang tamu masyarakat. Gagasannya langsung diuji oleh pembaca biasa, politisi, bahkan oleh algoritma media sosial.
Dampaknya bisa langsung terasa. Sebuah tulisan bisa mengubah opini atau mendorong kebijakan. Tapi risikonya jelas: demi keterbacaan dan kecepatan, nuansa dan kompleksitas seringkali terpangkas. Argumen ilmiah yang berlapis bisa tereduksi jadi sekadar pendapat yang reaktif. Di arena media yang haus klik, tulisan berbobot harus bersaing dengan konten sensasional.
Artikel Terkait
Babah Alun: Bergabung dengan Board of Peace Bawa Indonesia Lebih Diperhitungkan
Wapang TNI Desak Pembangunan Koperasi Merah Putih Dikebut
KPK Hadapi Kebuntuan, Biro Haji Ogah Buka Suara Soal Kuota Tambahan
Mendagri Tito Karnavian Langsung Sambangi Rumah Duka Istri Hoegeng