Dari kejauhan Abu Dhabi, rasa duka itu tetap terasa. Megawati Soekarnoputri menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya Meriyati Roeslani, atau yang akrab disapa Eyang Meri, dalam usia yang ke-100 tahun. Eyang Meri bukan sembarang orang; ia adalah istri dari mantan Kapolri, Jenderal (Purn) Hoegeng Imam Santoso, sosok yang namanya kerap disebut sebagai teladan integritas.
“Saya menyatakan duka cita dan kesedihan yang mendalam,” kata Megawati, yang tengah berada di Uni Emirat Arab, Selasa lalu.
“Keluarga Pak Hoegeng sudah seperti keluarga sendiri. Saya sendiri menyapa Bu Hoegeng dengan sapaan Tante Meri.”
Nada suaranya terdengar haru. Kenangan pun mengalir. Megawati mengenang kedekatan pribadinya dengan keluarga itu, termasuk dengan putri mereka, Reni, yang pernah satu sekolah dengannya di Perguruan Cikini, Jakarta. Beberapa kali ia berkunjung ke rumah mereka, terutama saat keluarga itu berlatih musik. Suasana hangat dan penuh tawa itu yang melekat dalam ingatannya.
“Tante Meri adalah seorang istri dan ibu yang sangat baik,” kenang Megawati.
“Beliau hangat, memiliki jiwa seni yang tinggi, dan bersama Pak Hoegeng aktif dalam grup band Hawaiian Senior.”
Baginya, momen-momen sederhana itulah yang justru menunjukkan sisi membumi dari keluarga seorang Kapolri legendaris.
Artikel Terkait
Pandji Usai Bertemu MUI: Karya Harus Diimbangi Kepekaan
Prabowo Dapat Dukungan Ormas Islam untuk Langkah Diplomasi Palestina
Strategi Sun Tzu di Balik Rekor Tak Terkalahkan Jokowi
Potensi Rp70 Triliun Tersandera: Mengapa Game Lokal Cuma Kuasai 5% Pasar Sendiri?